Article
Awas! Babi Bisa Sebabkan Tuli
Maret 29, 2017
0

              Ingatkah anda dengan kasus meningitis yang menghebohkan bali beberapa waktu lalu? Ya, penyakit tersebut dikenal dengan istilah meningitis babi. Kasus ini pertama kali terdeteksi di Desa Sibang Gede, Abiansemal, Kabupaten Badung. Tercatat 36 kasus telah  terjadi, dengan 15 orang rawat inap dan 21 orang rawat jalan dengan tetap menjalani observasi oleh tim puskesmas. Dinas Kesehatan Kabupaten Badung telah bertindak cepat dalam menangani kasus ini, yaitu dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat dan peternak babi di desa Sibang Gede, serta melakukan penyelidikan epidemiologi terkait dengan merebaknya kasus ini. Lalu, sebenarnya apakah meningitis babi itu?

            Meningitis babi merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus suis yang hidup di dalam tubuh babi lalu menginfeksi tubuh manusia dan akhirnya menimbulkan gejala-gejala seperti gejala meningitis pada manusia. S. suis merupakan bakteri gram positif yang bersifat anaerob yang mampu menyebabkan pneumonia, meningitis, septicemia dan arthritis pada babi (Nghia, 2008). Bakteri ini terdiri dari 35 serotipe yang berbeda dan Streptococcus suis serotipe 2 lah yang mampu menyebabkan meningitis pada babi dan mampu menginfeksi masuk ke tubuh manusia (Chung, 2005)

            Bakteri Streptococcus suis dapat menginfeksi manusia melalui luka pada tubuh seseorang yang bersentuhan secara langsung dengan babi yang positif terinfeksi S. suis, maupun yang bersentuhan langsung dengan daging babi mentah yang terinfeksi bakteri tersebut (Chung, 2005). Selain itu, bakteri Streptococcus suis dapat juga masuk melalui saluran pencernaan saat manusia memakan daging babi mentah yang berasal dari babi positif terinfeksi Streptococcus suis.

            Masa inkubasi dari bakteri Streptococcus suis adalah beberapa jam hingga 3 hari. Gejala yang muncul biasanya adalah rusaknya saraf pendengaran karena bakteri ini menyerang sistem saraf sehingga menyebabkan tuli dengan kemungkinan diatas 50%, serta vertigo dan ataxia (berkurangnya koordinasi otot saat melakukan berbagai kegiatan) dengan kemungkinan diatas 30%. Pada kasus yang terjadi beberapa waktu lalu, gejala yang muncul pada korban meningitis tersebut adalah hilangnya pendengaran secara tiba-tiba dan menyebabkan mereka kehilangan kesadaran serta bertingkah seperti orang gila.

            Pada umumnya, benzyl pennicilin merupakan antibiotik yang dipilih dalam pengobatan infeksi Stretococcus suis pada manusia. Selain itu juga dapat diberikan ampicillin, cephalothin, clindamycin, dan gentamycin sebagai pilihan alternatif. Efek dari antibiotik ini biasanya akan terlihat setelah 48 jam.

           Sesungguhnya meningitis babi pada manusia dapat dicegah dengan cara yang mudah. Para peternak babi harus menjaga agar kandang babi mereka tetap bersih dan menjaga agar ventilasi udara di dalam kandang tersebut terjaga dengan baik agar bakteri S. suis tidak mampu berkembang biak. Bagi masyarakat umum, pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Apabila tangan sedang dalam keadaan terluka, gunakan sarung tangan saat akan bersentuhan dengan babi ataupun daging babi yang akan diolah.
  2. Bersihkan tangan maupun bagian tubuh yang lain setelah melakukan kontak dengan babi maupun daging babi.
  3. Tidak mengonsumsi daging babi yang mentah.
  4. Apabila ingin mengonsumsi daging babi, sebaiknya dimasak dahulu dengan suhu minimal 70oC dengan waktu minimal 15 menit.
  5. Segera berkonsultasi ke dokter apabila merasakan gejala-gejala meningitis babi.

            Jadi, sebenarnya infeksi Streptococcus suis sangat gampang untuk dicegah, intinya adalah dengan merubah kebiasaan, terutama kebiasaan masyarakat bali yang terbiasa mengonsumsi olahan daging babi yang mentah. Budayakan makan daging babi yang telah dimasak dengan baik, niscaya penyakit meningitis babi tidak akan menyerang manusia.

 

 

Sumber

Nghia HDT, et all. (2008). Human Case of Streptococcus suis Serotype 16 Infection.         Emerging Infectious Diseases, Vol 14 (1), 155-157.

Chung, David C. 2005. Streptococcus suis Infection. The Chinese University of Hongkong.

www.okezone.com/read/2017/03/13/340/1641319/waduh-ada-42-kasus-meningitis-babi-di-badung (diakses pada 28 Maret 2017)