Article
“BERINVESTASIKAN GIZI SEIMBANG ATAU GIZI BURUK? TENTUKAN DARI SEKARANG “
Januari 25, 2016
0

Fruit-vs.-Fruit-Juices

“You are what you eat, what would you like to be?”

– Julie Murphy, Nutrition Across A Lifetime

Kesehatan merupakan suatu hal yang penting. Hal ini dikarenakan kesehatan dapat mempengaruhi kecerdasan dan tingkat produktivitas seseorang bahkan mempengaruhi masa dapat orang tersebut. Akan tetapi, kesehatan tentunya tidak datang dengan sendirinya. Sesuai pada quotes di atas, makanan yang anda makan merupakan salah satu kunci kesehatan seperti apa yang akan anda dapatkan.

Apabila seseorang memiliki pola makan bergizi dan pola hidup sehat, maka orang tersebut akan memiliki kualitas kesehatan yang baik. Kondisi tubuh dengan gizi optimal akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan otak, meningkatkan produktivitas serta mencegah maupun mengurangi risiko untuk mengalami Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti: penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, stroke dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya pada orang yang tidak memiliki pola makan bergizi dan pola hidup yang kurang sehat.

Ironisnya masih banyak masyarakat yang lebih memilih makan hanya untuk sekadar mengenyangkan perut dan “rasa enak” daripada membuat tubuh kenyang akan gizi. Hal inilah yang masih menjadi suatu tantangan permasalahan gizi di Indonesia. Berdasarkan Data Global Nutrition Report pada tahun 2014 menyebutkan Indonesia termasuk kedalam negara dengan masalah gizi yang kompleks, terbukti dengan tingginya prevalensi stunting, wasting dan permasalahan gizi berlebih. Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2013, prevalensi balita kurang gizi meningkat hingga mencapai 19,6 %, prevalensi stunting meningkat menjadi 37,2% serta obesitas sentral yang merupakan salah satu faktor penyebab PTM meningkat hingga 26,6%. Hal ini cukup menghawatirkan, mengingat PTM merupakan salah satu faktor utama penyebab kematian di Indonesia

Oleh karena itu, diperlukan suatu tindakan lebih lanjut untuk mencegah atau menekan prevalensi tersebut. Salah satu cara pencegahan tersebut adalah dengan melakukan pola hidup sehat sesuai dengan 10 pesan Pedoman Gizi Seimbang. Pedoman Gizi Seimbang berbeda dengan prinsip 4 Sehat 5 Sempurna. Bahkan pada tahun 1992, prinsip 4 Sehat 5 Sempurna digantikan dengan Pedoman Gizi Seimbang sesuai dengan kesepakatan konferensi pangan sedunia di Roma. Hal tersebut dikarenakan prinsip 4 Sehat 5 Sempurna yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dunia kesehatan saat ini. Prinsip 4 Sehat 5 Sempurna menyamaratakan kebutuhan gizi seseorang yang berumur di atas 2 tahun, sedangkan Prinsip Gizi Seimbang lebih menekankan pengomsumsian makanan sesuai dengan kebutuhan orang tersebut berdasarkan berat badan, tinggi badan serta umur seseorang karena tidak semua orang memiliki kebutuhan gizi yang sama.

LALU BAGAIMANA PENERAPAN PEDOMAN GIZI SEIMBANG?

Berbicara mengenai gizi seimbang pastilah terbesit di benak anda mengenai pola makan bergizi, aktivitas fisik, pola hidup bersih dan memantau berat badan. Ya, ke empat hal tersebut merupakan pilar prinsip dari Pedoman Gizi Seimbang. Kemudian bagaimana dengan penerapannya?. Penerapan Pedoman Gizi Seimbang dapat dilakukan sesuai dengan 10 Pesan Pedoman Gizi Seimbang. Berikut merupakan 10 Pesan Pedoman Gizi Seimbang.

  1. Mensyukuri dan makan makanan yang beragam karena tidak ada satupun makanan yang mengandung seluruh gizi yang diperlukan oleh tubuh, kecuali ASI untuk bayi sampai usia 6 bulan.
  2. Perbanyak makan sayuran dan buah-buahan untuk memenuhi kebutuhan gizi akan vitamin, mineral dan serat pangan. Pada beberapa buah bahkan mengandung karbohidrat. Semakin manis buah tersebut, semakin tinggi kandungan karbohidrat yang terkandung dalam buah tersebut.
  3. Biasakan mengonsumsi keanekaragaman makanan pokok. Makanan pokok seperti beras, jagung, singkong, umbi-umbian, sagu serta serealia utuh yang belum disosoh lainnya, mengandung karbohidrat yang tinggi, vitamin B1, vitamin B2 dan beberapa mineral serta serat yang berperan penting untuk mengontrol kenormalan kolesterol. Selain itu, kandungan karbohidrat yang lambat untuk diolah menjadi gula oleh tubuh dapat mencegah gula darah tinggi.
  4. Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang berprotein tinggi baik makanan yang mengandung protein yang berasal dari nabati ataupun hewani. Akan lebih baik jika keduanya dikonsumsi bersama-sama, hal ini dikarenakan makanan berprotein dari hewani memiliki kandungan protein, vitamin dan mineral yang lebih baik namun banyak mengandung kolesterol dan lemak jenuh. Sedangkan makanan berprotein yang berasal dari nabati memiliki kandungan lemak tidak jenuh serta anti kolesterol.
  5. Membatasi pengonsumsian pangan manis, asin dan berlemak.
  6. Membiasakan diri untuk sarapan pagi.
  7. Membiasakan diri untuk minum air putih yang cukup dan aman. Disarankan untuk meminum air 8 gelas sehari.
  8. Membiasakan diri untuk membaca atau mengecek label gizi pada kemasan makanan sebelum membeli atau mengonsumsi makanan tersebut, mengingat hampir semua makanan instan yang dijual dalam kemasan mengandung bahan kimia serta memiliki nutrisi kurang baik serta kalori yang tinggi.
  9. Membiasakan untuk mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir serta pola hidup bersih.
  10. Melakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal, hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan gizi yang masuk dan gizi yang dikeluarkan serta sebagai “usaha kontrol” guna menerapkan  pola hidup ini secara kontinu.

Jadi, ayo kita terapkan Pedoman Gizi Seimbang karena apa yang anda makan saat ini akan menentukan masa depan seperti apa yang akan anda hadapi di masa mendatang. Mau berinvestasi gizi seimbang atau gizi buruk?

 

 

SUMBER PUSTAKA:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. PMK No. 41 Tentang Pedoman Gizi Seimbang.

Dapat diakses pada:

http://www.hukor.depkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%2041%20ttg%20Pedoman%20Gizi%20Seimbang.pdf

(diakses pada tanggal 24 januari 2016)

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2015. 25 Januari, Hari Gizi Nasional.

Dapat diakses pada:

http://www.depkes.go.id/article/view/15012300021/25-januari-hari-gizi-nasional.html

(diakses pada tanggal 24 januari 2016)

Oleh: A. A. Ratih Surya Prameswari (Sie Ilmiah HMKM FK Unud)