Article
Berkenalan dengan Si Nyamuk Penyebab DBD
Juni 18, 2017
0

nyamuk

              Demam Berdarah Dengue atau DBD sudah menjadi penyakit yang umum di Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan sudah terbiasa dengan datangnya penyakit ini karena memang penyakit demam berdarah selalu menjadi wabah setiap tahunnya.

              Penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes sp. sebagai vektornya dan akhirnya menginfeksi tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut.  Namun masyarakat kini hanya mengetahui bahwa pembawa virus dengue hanyalah Aedes aegypti saja, padahal ada spesies Aedes lain yang juga mampu menyebarkan virus dengue, yaitu Aedes albopictus.

Lalu, apakah perbedaan Aedes albopictus dan Aedes aegypti?

            Vektor utama dalam penyebaran virus dengue adalah nyamuk Aedes aegypti, sedangkan Aedes albopictus merupakan vektor pendamping karena pada dasarnya Aedes albopictus merupakan spesies hutan yang lebih jarang melakukan kontak dengan manusia, sehingga sebagian besar kasus DBD disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk Aedes aegypti yang lingkungan hidupnya memang berdampingan dengan manusia (Candra, 2010). Perbedaan yang paling terlihat dari nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus adalah pola pada punggungnya.  Aedes aegypti memiliki pola berbentuk garis putih yang berjumlah dua buah dipunggungnya dan terdapat pola garis-garis pendek berwarna putih yang ciukup banyak yang menyebabkan nyamuk ini terlihat memiliki motif belang-belang, sedangkan Aedes albopictus hanya memiliki pola utama berupa satu garis putih di punggung dengan pola garis pendek yang lebih sedikit daripada Aedes aegypti (Rahayu, 2013).

Seekor Aedes aegypti mampu menghasilkan telur sebanyak 100 hingga 300 butir. Telur- telur tersebut ditempelkan pada dinding kontainer yang berisi air bersih dan akan dapat menetas menjadi jentik-jentik hanya dalam waktu 1-2 hari. Selain itu, telur nyamuk ini dapat bertahan dalam keadaan kering hingga lebih dari satu tahun dan akan mampu menetas jika telur tersebut mendapatkan air kembali. Setelah telur menetas, jentik-jentik nyamuk akan hidup 6 hingga 8 hari di dalam air dan setelah itu akan berubah menjadi pupa. Pupa nyamuk hanya perlu waktu 1 hingga 2 hari untuk menghasilkan nyamuk dewasa. Jadi siklus perkembangan nyamuk dari telur menjadi nyamuk dewasa sangatlah singkat yaitu 8 hingga 10 hari, sehingga memerlukan tindakan pencegahan yang cepat dan efisien (Suyanto, 2011)
Lalu, bagaimanakah karakteristik Aedes aegypti sebagai vektor utama pembawa virus dengue?

            Nyamuk dewasa memiliki tubuh berwarna hitam dengan corak putih, pada saat hinggap untuk menghisap darah posisi kepada dan punggung nyamuk tidak berada dalam satu sumbu atau tidak berada dalam satu garis lurus. Nyamuk Aedes aegypti biasa menggigit pada pagi dan sore hari. Umur nyamuk jantan hanya sekitar satu minggu, sedangkan nyamuk betina memiliki umur yang lebih lama yaitu 2 hingga 3 bulan. Perlu diketahui juga bahwa hanya nyamuk betinalah yang bisa menyebarkan virus dengue kepada manusia. Tempat hidup nyamuk dewasa adalah di tempat penampungan air (kontainer) yang berada di dalam rumah dan disekitar rumah, berupa tempat penampungan atau bejana yang tidak langsung berhubungan dengan tanah. Tempat-tempat yang biasanya digunakan sebagai tempat tinggal oleh nyamuk yaitu :

  1. Tempat penampungan air untuk keperluan sehari hari, seperti bak mandi, drum air, ember, tempayan, dll.
  2. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari hari, seperti tempat minum burung, gelas penirtaan, vas bunga, kolam yang tidak berisi ikan, barang barang bekas yang berisi air, dll.
  3. Tempat penampungan air alamiah, misalnya lubang di pohon, pelepah daun, batang bambu, tempurung kelapa, dan benda lainnya di alam yang tentunya berisi air yang mampu digunakan sebagai tempat tinggal oleh nyamuk.

Selain itu, nyamuk juga dapat menggunakan pakaian yang basah sebagai tempat tinggal sementara, sehingga sangat tdiak dianjurkan untuk menggantung pakaian basah di dalam rumah (Suyanto, 2011).

            Memahami karakteristik nyamuk Aedes sangatlah penting, karena dengan memahami karakteristik dari nyamuk Aedes ini dengan benar, maka akan dengan mudah dapat melakukan pencegahan yang tepat untuk meminimalisir perkembangan nyamuk tersebut dan secara tidak langsung akan mengurangi penyebaran virus dengue. Dengan berkurangnya penyebaran virus dengue, maka lambat laun masyarakat Indonesia akan mampu terlepas dari belenggu penyakit DBD yang sudah seperti penyakit langganan yang selalu menghampiri Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

Candra, Aryu. (2010). Demam Berdarah Dengue : Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan. Jurnal Aspirator. Vol II (2), 110 – 119.

Rahayu Diah Fitri. Ustiawan Adil. (2013). Identifikasi Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Jurnal Balaba. Vol IX (1), 7 – 10.

Suyanto, Darnoto Sri, Astuti Dwi. (2011). Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Praktek Pengendalian Nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Sangkrah Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta. Jurnal Kesehatan. Vol IV (1), 1 – 13.