Article
“Dampak Negatif Rokok pada Kesehatan dan Masalah RUU Pertembakauan”
Mei 29, 2017
0

            Masyarakat awam sebagian besar sudah mengenal bagaimana dampak merokok bagi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung, namun demikian tidak sedikit juga masyarakat (terutama laki-laki) yang menganggap bahwa rokok adalah sebagai kebutuhan dari mereka. Kebiasaan ini tidak hanya merugikan si perokok, namun juga membahayakan lingkungan di sekitar seperti aspek sosial yang berdampak kepada keluarga, teman, dan rekan kerja (Rochmayani, 2008).

           Rokok telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Indonesia menempati urutan kelima dalam konsumsi rokok di dunia (WHO, 2002).  Masalah rokok juga menjadi persoalan sosial ekonomi. Terdapat 60% dari perokok aktif atau sebesar 84,84 juta orang dari 141,44 juta orang adalah mereka yang berasal dari penduduk miskin atau ekonomi lemah yang sehari-harinya kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya (Fawzani dan Triratnawati ,2005). Meningkatnya kematian akibat rokok berbanding lurus dengan jumlah remaja perokok yang setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan.

        Beberapa penyakit yang dapat disebabkan oleh rokok diataranya penyakit paru-paru, kanker,  jantung koroner, stroke , impotensi dan gangguan kehamilan yang pastinya beresiko kematian. Hal tersebut sebagian besar diakibatkan karena sering kali si perokok tidak memerhatikan/tidak memperdulikan lingkungan sekitar, misalnya sudah terdapat Kawasa Tanpa Rokok (KTR) di sekitar areal tertentu, namun masih saja merokok dikawasan tersebut, padahal sudah ada PP 109 Tahun 2012 yang menjelaskan bahwa kawasan dilarang merokok, menjual, mengiklankan, mempromosikan, dan mensponsori produk tembakau. Ditengah berlombanya negara-negara di dunia mengetatkan aturan tentang rokok, peningkatan produksi ini jelas menargetkan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan konsumsi rokok dari berbagai kemungkinan kelompok umur, dan otomatis meningkatan produksi tembakau atau rokok dari tahun ke tahun. Kali ini yang menjadi target adalah anak-anak dan remaja konsumen yang mudah dan setia bagi industri rokok karena harapan hidup yang lebih panjang. Ancaman serius yang dikhawatirkan ini akan timbul dan mengganggu ketahanan nasional, yakni pada eksistensi negara karena memiliki kualitas sumber daya manusia dan prokduktivitas yang rendah serta tidak memiliki daya saing akibat dampak – dampak yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok.

       Selain itu, BPS (Badan Pusat Statistik) secara regular memberikan gambaran bahwa penduduk Indonesia khususnya penduduk menengah dan miskin, mengkonsumsi rokok dengan menghabiskan total uang penghasilan keluarga sebagai prioritas yang dibelanjakan tertinggi kedua setelah beras, yang selanjutnya melakukan riset dan menemukan bahwa pengguna narkoba mengikuti pola yang sangat khas, yaitu dibuka dengan konsumsi rokok, coba – coba untuk berkenalan dan gunakan ganja atau alkohol kemudian mengonsumsi obat – obat terlarang yang lebih kuat dosisnya (Julius Ibrani, 2016). RUU Pertembakauan ini, berpotensi sangat besar dalam menyumbangkan pengguna narkoba mendatang nantinya. Hal ini sangat kontradiktif dengan pernyataan Presiden Jokowi, bahwa Indonesia sedang darurat narkoba dan kita menyatakan perang terhadap narkoba. RUU Pertembakauan ini jelas mengkhianati implementasi tujuan nasional, yakni untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. RUU ini merupakan akar masalah yang akan menghadirkan pemiskinan massal dan pembodohan generasi mendatang bila jadi dilegalisasi sebagai UU Pertembakauan. Sampai saat ini RUU Pertembakauan masih menyebabkan pro kontra di masyarakat. Semoga kedepannya apapun keputusan dari DPR mengenai RUU Pertembakauan ini memang mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat Indonesia serta mampu mengatasi permasalahan pertembakauan dan rokok di Indonesia.

Daftar Pustaka

Novia, D. R. M., 2016. Jumlah Perokok di Indonesia Nomor Satu Dunia, Jakarta: s.n. Radjab, Suryadi. 2013. Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Jakarta: Serikat Kerakyatan Indonesia (SAKTI) dan Center For Law and Order Studies (CLOS).

Peraturan Pemerintah No.109 . 2012 . Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Jakarta

Rosita, Riska. Dwi Lianna dan Zaenal Abidin. 2012. Penentu Keberhasilan Berhenti Merokok pada Mahasiswa. Universitas Negeri Semarang.