Article
Deteksi Dini Hipertensi dengan ber-KOBAR (Konsultasi, Batasi, Re-check)
September 21, 2018
0

Sudah Tau Hipertensi? Yuk Kenali Lebih Lanjut!

Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah yang memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat (Jannah, 2017). Hipertensi juga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu penyakit tidak menular lainnya seperti penyakit jantung, storke dan lainnya (Wati, 2018). Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang lebih optimal. Disimpulkan bahwa masalah kesehatan dapat dipengaruhi oleh pola hidup, pola makan, faktor lingkungan kerja, olahraga dan stres. Pola hidup yang dilakukan terutama di kota besar menyebabkan peningkatan angka prevalensi penyakit degeneratif, salah satunya adalah hipertensi (Sihombing, 2017). Menurut WHO pada tahun 2012 terhitung 839 juta kasus hipertensi dan diperkirakan hingga tahun 2025 menjadi hingga 1,15 milyar kasus atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, penderita wanita lebih banyak (30%) dibanding laki-laki (29%). Hipertensi atau yang biasa disebut tekanan darah tinggi dapat menyebabkan gagal jantung kongestif dan juga penyakit cerebrovascular, dapat mempertinggi 5 kali risiko penyakit jantung koroner dan 10 kali stroke. Terhitung 40-70% penderita stroke juga merupakan penderita hipertensi (WHO, 2012 dalam Triyatno, 2014).

Kenapa bisa Hipertensi ya,  Apa sih penyebabnya?

Terdapat dua jenis faktor risiko hipertensi, yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin dan genetik) dan faktor risiko yang dapat diubah (obesitas/kegemukan, psikososial dan stres, merokok, olah raga yang kurang, konsumsi alkohol berlebihan, konsumsi garam berlebihan, hiperlipidemia/hiperkolesterolemia). Penyebab lain dari penyakit hipertensi adalah penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan penggunaan obat-obatan seperti pil kontrasepsi (Pangaribuan, 2015).

Iya Hipertensi,  Lalu Kenapa?

Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (2016), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya (WHO, 2016). Di seluruh dunia, hipertensi mengakibatkan kurang lebih 7,5 juta kematian dari 12,8% total kematian secara keseluruhan. Hipertensi juga dikenal sebagai silent killer, karena sering muncul tanpa ditandai dengan adanya sebuah gejala serta lebih sering mengakibatkan kematian daripada kanker (Saputra, 2017).

Silent Killer? Wah Gawat!

Yuk ber-KOBAR Bersama Deteksi Hipertensi

Karena hipertensi muncul tanpa ditandai oleh adanya gejala, maka kitalah yang seharusnya memiliki kesadaran untuk mencegahnya dengan mendeteksinya terlebih dahulu. Jadi, penulis menyimpulkan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui dan mencegah hipertensi terlebih dahulu dengan ber-KOBAR. Jadi maksud dari ber-KOBAR bukan semangat yang membara, dalam konteks ini ber-KOBAR memiliki arti untuk melakukan KOBAR. Kepanjangan dari KOBAR itu sendiri, yaitu :

KO (Konsultasi)

Konsultasi rutin patut dilaksanakan untuk memeriksakan tekanan darah ke pelayaan kesehatan terdekat dan dapat memberikan kita informasi mengenai gaya hidup yang harus diperbaiki. Sehingga nantinya, kita dapat mengoreksi gaya hidup kitas sendiri agar terhindar dari hipertensi (Lesirollo, 2018). Selain itu, Konsultasi masalah gizi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga maupun individu. Setelah melakukan konsultasi, diharapkan keluarga dan individu mampu mengatasi permasalahan gizi yang dihadapinya termasuk permasalahan pola makan dan memecahkan permasalahan terkait gizi menuju kearah yang lebih sehat (Wati, 2018)

BA (Batasi)

Batasi gaya hidup yang kurang baik. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dan makanan yang memiliki kandungan garam yang tinggi dapat memicu meningkatnya tekanan darah. Baca terlebih dahulu label pada kemasan makanan, obat, ataupun minuman yang akan dikonsumsi agar dapat terhindar dari kandungan garam yang tinggi (Wati, 2018). Gaya hidup yang tidak baik seperti merokok, konsumsi minuman beralkohol dan kurangnya olahraga dapat mempengaruhi tekanan darah(Kemenkes, 2015). Konsumsi alkohol lebih dari segelas dalam sehari dapat memicu peningkatan tekanan darah, sedangkan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga dapat mengakibatkan obesitas dan hipertensi (Wati, 2018).

 Re – Check

Re – Check ini dimaksudkan untuk memeriksa kembali riwayat keluarga, apakah terdapat riwayat hipertensi atau tidak. Apabila kedua orangtua mengidap hipertensi, kemungkinan seseorang menderita hipertensi naik menjadi 60% Penelitian yang dilakukan Wahiduddin pada tahun 2012 di Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga hipertensi berpeluang 4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi untuk terkena penyakit ini (Lesirollo, 2018). Jika terdapat riwayat keluarga yang mengalami hipertensi, berikut makanan yang mungkin harus dihindari atau dibatasi untuk dikonsumsi agar menurunkan risiko terserang hipertensi menurut Kemenkes, 2015 dalam Infodatin-Hipertensi.

  1. Makanan yang berkadar lemakjenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
  2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, crackers, keripikdan makanan keringyangasin).
  3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink).
  4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
  5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
  6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandunggaram natrium.
  7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

Kesimpulan

Jadi hipertensi merupakan suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang muncul tanpa diawali dengan sebuah gejala. Penyakit ini dapat disebabkan oleh gaya ataupun pola hidup yang kurang sehat. Meskipun demikian, hipertensi dapat kita deteksi dan cegah terlebih dahulu dengan berkonsultasi ke dokter mengenai hipertensi dan gaya hidup kita, membatasi pola hidup kita yang kurang baik dan memeriksa kembali riwayat hipertensi keluarga. Nah, sekarang sudah tahu kan bagaimana caranya agar kita dapat mendeteksi dan mencegah hipertensi. Meskipun hipertensi memiliki julukan silent killer, tetaplah kita harus berani menghadapinya. Salah satu cara agar kita dapat menghadapi hipertensi yaitu dengan ber-KOBAR.

Ayo, KOBAR-kan Semangatmu Cegah Hipertensi!

 

REFERENSI

Jannah, M., Nurhasanah, N., & Sartika, R. A. 2017. Analisis Faktor Penyebab Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mangasa Kecamatan Tamalate Makassar. Pena: Jurnal Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Unismuh, 3;1, 409-417.

 

Kemenkes, R. I. 2015. Infodatin-Hipertensi. [Internet] Di akses di www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/pencegahan/hipertensi.pdf pada 12 September 2018 12.36 WITa.

 

Lesirollo, S. R., Kandou, G. D., & Ratag, B. T. 2018. Hubungan Antara Perilaku Konsumsi Makanan, Aktivitas Fisik, Dan Riwayat Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Dewasa Di Desa Pulisan Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Paradigma; 6, 1.

 

Pangaribuan, L., & Lolong, D. B. 2015. Hubungan penggunaan kontrasepsi pil dengan kejadian hipertensi pada wanita usia 15-49 tahun di Indonesia tahun 2013 (analisis data riskesdas 2013). Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 25;2, 89-96.

 

Saputra, M. H., Muhith, A., & Fardiansyah, A. 2017. Analisis Sistem Infromasi Faktor Resiko Hipertensi Berbasis Posbindu di Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Publikasi Hasil Penelitian; 1, 7-17.

 

Sihombing, M. 2017. “Faktor yangBerhubungan dengan Hipertensi padaPenduduk Indonesia yang MenderitaDiabetes Melitus (Data Riskesdas 2013)”.Buletin Penelitian Kesehatan, 45;1, 53-64.

 

Triyanto E. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Wahiduddin, 2012. Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan. Jurnal Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin. Makassar.

 

Wati, C. S., Suryani, I., Lestari, N, T. 2018. Differences of Giving Hypertension Booklet and Family Accompaniment to Change of Eating Intake and Blood Pressure of Hypertension Patients in Gondokusuman Community Health Center 1. Yogyakarta : Departement Health Politechnic of Health Ministry.

 

WHO, 2016. Blood Pressure Prevalence. Diakses pada laman: http://www.who.int/gho/ncd/risk_facto rs/blood_pressure_prevalence_text/en/ pada 5 September 2018 pukul 22.24 WITa