Article
KENALI PENYAKITNYA, SADARI RISIKONYA DAN MINIMALISIR POTENSINYA DALAM HIDUP ANDA
Maret 28, 2016
0

KENALI PENYAKITNYA, SADARI RISIKONYA DAN MINIMALISIR POTENSINYA DALAM HIDUP ANDA

Oleh: A. A. Ratih Surya Prameswari (Sie Ilmiah)

images (3)

 

“Diseases can rarely be eliminated through early diagnosis or good treatment, but prevention can eliminate disease – Denis Parsons Burkitt”

Tidak semua penyakit dapat disembuhkan, sebagian justru sulit untuk disembuhkan bahkan dapat disembuhkan meski telah menjalani diagnose lebih dini ataupun pengobatan yang baik. Pengobatan saja, masih belum cukup. Salah satu penyakit yang sulit didiagnosa, diobati, yang bahkan justru menjadi salah satu penyakit dengan angka mortalitas yang tinggi adalah penyakit Tuberkulosis (TB).

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Menurut Miller, Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang dan bersifat asam, sehingga bakteri ini sering disebut sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Oleh sebab itu, untuk mendeteksi penyakit tuberculosis digunakan idikator BTA positif atau negative melalui pemeriksaan dahak. Penyakit TB umumnya digolongkan pada sebagai salah satu penyakit paru-paru, namun terkadang terdapat kasus dimana bakteri Mycobacterium tuberculosis menyerang organ lainnya selain paru-paru. Berdasarkan oragan yang diserang, penyakit TB di klasifikasikan menjadi dua, yakni: TB paru dan TB ektra paru. TB paru adalah penyakit TB yang hanya menyerang jaringan paru-paru. TB ektra paru adalah penyakit tuberculosis yang menyerang organ tubuh lainnya selain jaringan paru-paru, seperti: selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfa, kulit, ginjal, persendian dan lain-lain.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis awalnya berhasil ditemukan dan diidentifikasi pada tahun 1882 oleh Robert Koch. Kemudian menyusul dengan ditemukannya vaksin BCG pada tahun 1906. Tak lama setelah itu, ditemukan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) serta obat-obat anti TB lainnya, sepeti: Streptomisin, Thiacetazone dn Asam Para-aminosalisilat (PAS), Isoniazid, Pirazinamid, Cycloserine, Ethionamide, Rifampicin dan Ethambutol. Akan tetapi, dunia kesehatan menemukan suatu masalah sekaligus tantangan, yakni munculnya strain Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap OAT. Munculnya Mycobacterium tuberculosis yang tidak dapat dibunuh dengan satu atau lebih OAT, membuat WHO memperkirakan bahwa terdapat kasus baru Multi Drug Resistance (MDR TB) pada setiap tahunnya. Diperkirakan terdapat sebanyak 2% kasus TB baru, 12% kasus TB pengobatan ulang yang merupakan kasus TB MDR serta 55% pasien MDR TB yang belum didiagnosis atau mendapatkan pengobatan dengan baik dan benar.

Di Indonesia, menanggapi urgensi peningkatan prevalensia serta peningkatan mortalitas akibat dari kasus TB ini, maka dilakukan suatu program Strategi Nasional Pengendalian TB pada tahun 2010-2014. Salah satu capaian indikator yang digunakan untuk menggambarkan keberhasilan program pengendalian TB tersebut adalah dengan menggunakan Case Notification Rate (CNR) adalah angka yang menunjukan jumlah seluruh pasien TB yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah. CNR digunakan sebagai indicator penentuan penururnan maupun peningkatan jumlah penemuan pasien TB pada suatu wilayah. CNR di Indonesia dari tahun 2011-2014 mengalami stagnasi. Pada semua daerah, terlihat Bali terdapat 82 kasus/100.000 penduduk. Banyak hal yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan CNR, seperti: kinerja pencatatan dan pelaporan, jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang terlibat Directly Observed Treatment Short-course serta banyaknya pasien TB yang tidak terlaporkan fasyankes.

Bagaimana Gejala dan Faktor Risikonya?

unnamed

Penyakit TB memiliki beberapa gejala-gejala yang umum terjadi, seperti: batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih, batuk bercampur darah,sesak napas, nyeri dada, badan lemah, nafsu makan berkurang, berat badan turun, lemas, demam sert berkeringat di malam hari tanda alasan yang jelas. Ada banyak faktor yang mempengaruhi risiko dari TB. Faktor risiko yang mempengaruhi TB dibagi menjadi 2, yakni: faktor risiko infeksi dan faktor risiko progresifitas infeksi menjadi penyakit atau risiko penyakit. Faktor-faktor yang mempengaruhi TB antara lain: faktor sosial ekonomi, status gizi, umur, jenis kelamin, HIV, penularan dari orang lain dengan TB infeksius serta lingkungan tempat tinggal yang kumuh.  Asupan makanan yang kurang bergizi dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang TB, hal ini karena secara tidak langsung juga mempengaruhi kondisi imun dari orang tersebut. Umur sangat berpengaruh dengan risiko untuk terserang TB, hal ini karena kondsi imun seseorang akan semakin melemah seiring dengan bertambah tuanya umur seseorang. Akan tetapi TB juga dapat ditemukan pada usia produktif dan anak-anak. Hal ini karena penular TB ke anak-anak dapat terjadi apabila orang terdekatnya merupakan seorang TB aktif. Menurut WHO, laki-laki lebih banyak terserang penyakit TB daripada wanita. Hal tersebut dikarenakan, laki-laki lebih banyak merokok daripada wanita. Namun di Indonesia sendiri, kebiasaan merokok tidak hanya pada laki-laki, tetapi pada wanita pun sudah mulai menunjukan angka prevalensi yang cukup tinggi. Selain itu, WHO menyatakan, bahwa dari segi umur meskipun laki-laki memiliki prevalensi penderita yang lebih tinggi daripada wanita, namun wanita memiliki angka kejadian kasus kematian yang lebih tinggi daripada laki-laki.

Faktor HIV dapat mempengaruhi penularan dari penyakit TB dikarenakan sistem imun pada penderita HIV+ cederung memiliki sistem imun yang lemah dibandingkan orang sehat pada umumnya. Hal tersebut membuat bakteri yang masuk lebih mudah untuk menyerang dan menginfeksi penderita HIV+. Di Indonesia hal ini perlu diwaspadai mengingat prevalensi HIV di Indonesia cukup tinggi. Bahkan belum ada data yang benar-benar pasti akan prevalensi penyakit ini, layaknya fenomena gunung es, hanya orang-orang yang telah melapor, AIDS dan kasus kematian yang terlihat, tetapi siapa yang tahu akan prevalensi dibawah gunung yang cenderung tersembunyi. Sehingga, perlu dilakukan pencegahan HIV daripada TB, namun pencegahan bukan berarti mengabaikan penderita HIV+, penderita HIV+ justru perlu diberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga tidak tertular penyakit TB ini.

Lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap penularan TB. Lingkungan tempat tinggal yang kumuh serta tingkat kebersihan dari penduduk yang minim akan memudahkan penularan dari penyakit TB. Sejalan dengan pembangunan negara, proporsi rumah yang berlokasi di daerah yang kumuh semakin meningkat. Beberapa daerah dengan proporsi rumah di daerah kumuh yang cukup tinggi adalah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, DKI Jakarta dan Papua.

Bagaimana Pencegahannnya?

Melihat segala fakta dan faktor risiko TB, diperlukan suatu tindakan preventif yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, namun juga dari masyarakat itu sendiri. Barikut merupakan beberapa tahap pencegahan TB yang dapat dilakukan oleh masyarakat umum:

  • Kondisi rumah yang bersih dan baik
  1. Berventilasi
  2. Jangan biarkan kondisi rumah atau udara dalam rumah yang lembab
  3. Biarkan cahaya matahari untuk masih ke dalam rumah sesekali
  4. Atur agar jumlah penghuni rumah tidak terlalu banyak, karena kadar CO2 di dalam rumah akan mempercepat pertumbuhan bakteri TB
  5. Lamtai rumah yang kedap air dan bersih
  • Tidak membuang dahak sembarangan , menutup mulut ketika batuk
  • Menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta rajin mencuci tangan dengan baik dan benar
  • Menjemur peralatan tidur
  • Membuka jendela setiap pagi
  • Makan makanan bergizi
  • Tidak merokok dan minum-minuman keras
  • Melakukan aktivitas fisik yang cukup
  • Selalu mencuci peralatan makan dan minum dengan air bersih dan mengalir
  • Melakukan vaksinasi BCG

Apa Itu Vaksin BCG?

Pencegahan TB yang perlu dilakukan sejak dini adalah pemberian vaksin BCG. Vaksin BCG adalah vaksin yang relatif aman dan diberikan kepada orang-orang yang dianggap berisiko terkena TB di masa mendatang. vaksin BCG merupakan vaksin berupa serbuk kering yang mengandung bakteri serupa dnegan bakteri penyakit TB, akan tetapi bakteri tersebut telah diubah sehingga hanya akan menyebabkan infeksi ringan atau efek lokal (efek pada tempat vaksinasi) saja. Dengan diberikannya vaksin BCG, tubuh akan meningkatakan kekebalannnya terhadap TB.

Setelah dilakukan vaksinasi, dalam beberapa hari sampai minggu akan terjadi bengkakan merah kecil pada tempat vaksinasi (efek lokal). Bengkakan tersebut akan menjadi lepuh kecil kemudian keropeng berkerak. Ketika keropeng tersebut sudah lepas, bekas luka kecil akan masih terlihat. Meskipun terjadi efek lokal, namun efek dari vaksinasi tersebut tidak akan menyebabkan rasa nyeri ataupun sakit. Apabila terjadi pembengkakan kelenjar di dekat tempat vaksinasi, terutama pada bayi baru lahir, maka segera beritahukan kepada petugas tenaga kesehatan yang ahli dalam bidnag TB.

Meskipun vaksin BCG memiliki efek samping buruk, namun sangat jarang terjadi. Efek samping buruk dari vaksin BCG ini umumnya ternjadi pada orang-orang yang memiliki kekebalan tubuh telah ditekan atau mengalami kekebalan imun yang melemah. Untk mengantisipasi hal tersebut, setelah melakukan vaksinasi, pasien umumnya akan diminta untuk menunggu selama 10 menit di tempat vaksinasi. Hal tersebut agar petugas kesehatan dapat mengamati efek samping yang terjadi pada anda, sehingga efek samping buruk dapat segera ditangani jika terjadi.

Lalu Bagaimana dengan Penderita TB, Apa yang Harus dilakukan?

Bagi penderita TB, hal yang harus dilakukan adalah tetap pencegahan yang telah dipaparkan di atas agar dapat menekan penularan TB kepada anggota keluarga atau kepada orang lain. Selain itu, dianjurkan untuk meminum OAT sesuai resep dokter dengan disiplin tanpa putus, tetaplah menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan (berpindah-pindah fasilitas pelayanan kesehatan dapat menghambat proses penyembuhan karena sulit untuk mengamati progress dari penyakit), menyimpan obat dengan benar (penyimpanan yang tidak benar dapat menurunkan kualitas dari obat). Hal tersebut harus dilakukan terus oleh penderita TB dengan penuh disiplin dan secara kontinu sampai penderita TB tersebut sembuh.

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Infodatin: Tuberkulosis, Temukan, Obati Sampai Sembuh.

Dapat diakses pada:

www.depkes.go.id/resources/download/…/infodatin/infodatin_tb.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Maret 2016)

Kartasasmita, Cissy B. 2009. Epidemiologi Tuberkulosis. Jurnal kesehatan. Fakultas Kedokteran, bagian Ilmu Kesehatan Anak. Vol. 11, No.2. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Dapat diakses pada:

saripediatri.idai.or.id/pdfile/11-2-9.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Maret 2016)

Ruchban, Nur Fitriani Ruchban. 2014. Hubungan Kondisi Fisik Rumah dengan kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Bone Kab.Bone Bolango Tahun 2012. Skripsi. Jurusan Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo.

Dapat diakses pada:

eprints.ung.ac.id/5783/5/2012-1-13201-811408075-bab2-15082012024817.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Maret 2016)

Hiswani. 2004. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Dapat diakses pada:

library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani12.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Maret 2016)

 

Queensland Government Departement of Health. 2013. BCG Vaccination.

Dapat diakses pada:

https://www.health.qld.gov.au/chrisp/tuberculosis/documents/factsheets/indonesian/indonesian_FS_5.pdf

(Diakses pada tanggal 25 Maret 2016)