Article
“KETAHUI, CEGAH DAN RANGKUL MEREKA”
Desember 27, 2016
0

hiv-curt“HIV does not make people dangerous to know, so you can shake their hands and give them a hug: heaven knows they need it” – Diana, Princess of Wales

Beberapa masyarakat mungkin masih ada yang belum menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan merawat reproduksi. Hal ini menyebabkan peyakit menular reproduksi menjadi mudah untuk menjangkit masyarakat, seperti: IMS, HIV/AIDS dan hepatitis B. Salah satu penyakit menular seksual yang saat ini masih menjadi suatu persoalan di masyarakat adalah HIV/AIDS. Beberapa beranggapan bahwa HIV dan AIDS adalah suatu kondisi penyakit yang sama, namun sebenarnya berbeda. HIV merupakan virus yang menyerang sel darah putih sehingga menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh seseorang, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena infeksi virus HIV.

Di Indonesia, penyakit HIV pertama kali ditemukan di Bali pada tahun 1987. Saat ini penyakit akibat HIV telah menyebar hingga ± 386 kabupaten di seluruh Indonesia. Menurut Kemenkes RI 2014 dalam Infodatin HIV/AIDS, jumlah kumulatif penderita HIV+ sejak 1987 sampai 2014 yang tercatat sebanyak 150.269 orang dan jumlah kumulatif penderita AIDS sejak 1987 sampai 2014 yang tercatat sebanyak 55.799 orang.

Dari data yang didapatkan kelompok masyarakat yang berisiko untuk menderita HIV/AIDS adalah masyarakat yang berada dalam kelompok umur reproduktif (25-49 tahun, diikuti dengan kelompok umur 20-24 tahun), kelompok pengguna napza dan jarum suntik serta kelompok heteroseksual maupun LSL (laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki). Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, laki-laki diketahui dua kali lipat lebih berisiko daripada perempuan, yakni persentase pada laki-laki sebesar 54% dan perempuan sebesar 29%. Peningkatan dari kejadian kasus HIV+ di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, seperti: belum meratanya ekonomi masyarakat, belum meratanya perkembangan dan pertumbuhan pembangunan di semua daerah, rendahnya tingkat pendidikan, ketidakadilan etnis, deskriminasi gender, inisiasi seksual pada usia muda, norma sosial dan budaya serta kebijakan hukum yang belum diperbaiki untuk mendukung akses masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan melalui pelayanan kesehatan reproduktif.

BAGAIMANA PENULARAN HIV/AIDS?

Virus HIV dapat tertular melalui beberapa cara, yakni:

  • Transfusi darah

Salah satu media peularan HIV/AIDS adalah darah, naun tidak semua transfusi darah berisiko. Hanya transfusi darah yang dilakukan dari orang yang telah menderita HIV+ yang berisiko untuk menularkan penyakit ke orang yang sehat.

  • Penggunaan jarum suntik

Penggunaan jarum suntik berulang dari orang ke orang dinilai berisiko untuk menularkan penyakit HIV/AIDS. Hal ini dilihat dari data kasus sebanyak 15% yang berasal dari pengguna napza injeksi/ jarum suntik. Tidak hanya jarum suntik yang berisiko untuk menularkan HIV/AIDS, namun peralatan-peralatan yang memiiki risiko untuk terjadinya kontak darah dari orang ke orang juga perlu diwaspadai. Peralatan tersebut seperti gunting, alat pencukur dan lain-lain. Hal ini umumnya kurang diperhatikan pada tempat mencukur rambut ataupun salon. Oleh sebab itu periksalah terlebih dahulu ke higienisan peralatan yang digunakan sebelum anda menerima jasa pencukuran rambut.

  • Hubungan seksual tanpa kondom

Selain darah, air mani dan cairan vagina pun dapat menjadi salah satu media penularan HIV/AIDS. Oleh sebab itu, melakukan aktivitas seksual tanpa menggunakan kondom merupakan salah satu aktivitas yang sangat berisiko akibat kontak langsung tubuh dengan cairan mani ataupun cairan vagina.

  • Ibu hamil

Risiko pada ibu hamil hanya terjadi pada ibu hamil yang telah menderita HIV. Hal ini perlu perhatikan karena adanya kemunginan untuk janin masih ada dalam kandungan ibu hamil unutk ikut terjangkit virus tersebut. Oleh sebab itu, pada beberapa tempat pelayanan kesehatan menyarankan untuk ibu hami melakukan tes pemeriksaan HIV, hal ini untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu saat ini serta melakukan mencegah penularan HIV kepada janin maupun untuk meminimalisir kecepatan pertumbuhan dari virus untuk berkembang dalam tubuh melalui suntik ARV.

BAGAIMANA PENCEGAHAN HIV/AIDS?

Berikut merupakan beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mencegah penularan HIV/AIDS:

  • Anda jauhi berhubungan seksual

Akan lebih baik bagi masyarakat yang belum memasuki usia yang matang dan belum dapat bertanggungjawab untuk menghindari hubungan seksual dengan pasangan.

  • Bersikap saling setia pada pasangan

Berdasarkan data, bersikap saling setia dengan pasangan dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Hal ini dikarenakan tidak semua orang penderita HIV terlihat sakit, namun sebaliknya sebelum memasuki tahap AIDS penderita HIV cenderung terlihat sehat. Oleh karena itu, diperlukan perilaku sehat dalam menjalin hubungan.

  • Cegah dengan menggunakan condom

Penggunaan kondom tidak hanya dapat mencegah penularan HIV/AIDS, namun juga dapat mencegah penularan penyakit seksual seperti IMS. Oleh sebab itu, tidak hanya pasangan yang sehat yang perlu menggunakan kondom, pasangan yang telah terkena HIV juga perlu menggunakan kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS.

  • Dihindari, penggunakan jarum suntik berulang

Diperlukan perhatian lebih dalam menggunakan alat-alat yang mungkin dapat berkontak langsung dengan darah orang lain. Sehingga disarankan untuk memperhatikan kebersihan dan mengganti secara rutin penggunakan alat-alat, seperti: jarum suntik, alat mencukur dan lainnnya.

  • Edukasi, ajari teman-teman serta pasangan mengenai pentingnya mencegah HIV/AIDS serta menghapuskan paradigma deskriminasi terhadap penderita HIV dengan merangkul mereka dan memberi semangat untuk sembuh. Ironisnya penghambat pencegahan HIV/AIDS saat ini justru adalah diskriminasi masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS. Diskriminasi tidak haya dalam kehidupan sosial namun juga dalam bentuk norma atau kebijakan hukum. Deskriminasi sosial akan menyebabkan psikologi seorang penderita untuk enggan memeriksakan diri dan menjalani pengobatan akibat rasa takut akan deprivasi. Sedangkan diskriminasi norma/kebijakan dapat dalam bentuk norma / kebijakan yang menghambat masyarakat dari segala umur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi, serta kesetaraan gender yang masih kurang akibat suatu budaya masyarakat.

Sumber:

Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2014. Infodatin: HIV/AIDS. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dapat diakses pada:

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin%20AIDS.pdf

(diakses pada 2 Desember 2016)

UNICEF Indonesia. 2012. Ringkasan Kajian: Respon terhadap HIV dan AIDS. Jakarta: UNICEF Indonesia.

Dapat diakses pada:

https://www.unicef.org/indonesia/id/A4_-_B_Ringkasan_Kajian_HIV.pdf

(diakses pada 2 Desember 2016)