Article
Mari Lakukan Imunisasi Sejak Dini
April 20, 2018
0

Tahukah kalian apa itu Imunisasi?

Imunisasi berasal dari kata kebal, resisten atau imun. Apabila seorang bayi diimunisasi, maka ia akan mendapatkan kekebalan dari suatu penyakit tertentu. Seseorang kebal akan satu penyakit tetapi belum tentu kebal pula terhadap penyakit lainnya. Imunisasi merupakan sebuah usaha untuk memeroleh kekebalan secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga jika terpapar penyakit tersebut, seseorang yang telah diimunisasi tidak akan terserang penyakit atau hanya mengalami sakit ringan. Terdapat dua jenis kekebalan yang dihasilkan yaitu kekebalan aktif dan pasif. Kekebalan aktif adalah proteksi yang diperoleh dari sistem kekebalan seseorang sendiri sedangkan kekebalan pasif (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).

Imunisasi merupakan upaya nyata pemerintah dalam mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti Pertusis, Difteri, Hepatitis B. Campak, Polio. Kelima imunisasi tersebut dikenal sebagai Lima Imunisasi Lengkap (LIL). LIL ini diwajibkan untuk anak dibawah satu tahun. Imunisasi pula merupakkan upaya untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) khususnya yaitu menurunkan angka mortalitas anak (Mulyanti, Y. 2013).

Apa manfaat imunisasi?

Imunisasi sangat penting untuk memberikan perlindungan pada bayi terhadap penyakit – penyakit menular yang dapat mengancam jiwa. Imunisasi akan membentuk kekebalan tubuh sehingga risiko untuk tertular penyakit yang bersangkutan lebih kecil sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian serta menurunkan kemungkinan kecacatan akibat penyakit tertentu (Mulyanti, Y. 2013).

Apa saja macam – macam imunisasi wajib?

Terdapat imunisasi dasar yang diwajibkan oleh pemerintah untuk dilakukan yaitu :

  1. Imunisasi Polio

Imunisasi Polio merupakan imunisasi untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit poliomyelitis atau sering disebut polio. Penyakit ini dapat berakibat kelumpuhan. Vaksin polio pula tidak menimbulkan efek samping pada penerimanya. Kontraindikasi yang dapat terjadi pada bayi dengan hipersensitivitas yang tinggi terhadap antibiotika (Mulyanti, Y. 2013).

  1. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) dapat dilakukan sejak kelahiran. Imunisasi ini bertujuan dalam memberika kekebalan tubuh terhadap tuberculosis (TBC). Apabila ingin diberikan setelah umur 3 bulan ,maka hendaknya dilakukan uji tuberculin dahulu. Jika hasilnya negatif ,maka imunisasi dapat diberikan. Imunisasi ini dapat mencegah penyakit TBC berat seperti yang menyerang selaput otak, tulang dan paru (TBC Milier) (Mulyanti, Y. 2013).

Efek samping pemberian imunisasi ini yaitu terjadinya ulkus pada area tubuh yang disuntik, limfadenitis regionalis dan reaksi panas. Selain ittu setelah 3-6 minggu akan terjadi indurasi, eritema, dan terkadang ulserasi. Tanda lokal akan menghilang dalam durasi 2-6 bulan (Mulyanti, Y. 2013).

  1. Imunisasi Campak

Imunisasi campak diberikan agar dapat melindungi dari penyakit campak. Campak disebabkan oleh virus campak yang menyebabkan komplikasi berbahaya yakni kejang, kerusakan otak dan paru. Ulangan tau booster imunisasi ini dilakukan sekalian dengan imunisasi MMR (Measles Mumps Rubella). Hipersensitivitas berat terhadap antibiotika adlaah kontraindikasi campak (Mulyanti, Y. 2013).

  1. Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)

Imunisasi ini memerikan perlindungan terhadap ketiga penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri merupakan penyakit menular yang menyerang tenggorokan yang dapat menyeebar ke sistem syaraf dan jantung serta dapat berakibat kematian. Pertusis atau juga yang dikenal batuk rejan  atau batuk 100 hari merupakan penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Bakteri ini menyebabkan batuk menjadi parah dan lama, dengan komplikasi yang juga berbahaya apabila tidak ditangani dengan baik. Tetanus merupakan penyakit bakteri berbahaya yang bisa menyebabkan penderitanya mengalami kejang otot dan sakit yang hebat (Mulyanti, Y. 2013).

Efek samping yangditimbulkan imunisasi ini yaitu demam dengan durasi 24-48 jam setelah diberikan vaksinasi dan dapat diatasi dengan pemberian obat panas. Bila setelah imunisasi terjadi demam 40oC, demam yang lebih dari tiga hari disertai kejang, maka disarankan untuk segera menemui dokter (Mulyanti, Y. 2013).

  1. Imunisasi Hepatitis B

Vaksin hepatitis B bertujuan dalam melindungi bayi dari penyakit hepatitis B. Penyakit ini merupakan infeksi lever yang dapat menyebabkan kanker, sirosis hati bahkan kematian. Frekuensi pemberian imunisasi ini yaitu sebanyak 3 kali dan boosternya diberikan pada usia 6 tahun (Mulyanti, Y. 2013).

Mengapa imunisasi butuh diulangi (booster)?

Imuniasasi ulangan adalah pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar atau pada anak sekolah dasar (SD) kelas I. Booster penting untuk meningkatkan kembali respon imun terhadap vaksin yang telah semakin menurun kadarnya di tubu seiring bertambahnya umur. Apabila tidak diberikan booser, anak akan berisiko tidak terlindung dari penyakit yang semestinya bisa dicegah, contohnya wabah difteri. Apabila sedang terjadi wabah, maka booster dapat dengan segera diberikan (Nurazisah. 2012).

Setelah mendapatkan informasi mengenai imunisasi di atas, diharapkan kepada seluruh masyarakat dapat meningkat kesadarannya untuk memberikan imunisasi sejak diri kepada bayinya dan juga rutin untuk memberikan booster sehingga terhindar dari penyakit menular. Mari bantu sukseskan program pemerintah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dengan taat berimunisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Nurazisah. 2012. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Booster pada Anak di Kota Makassar.

Mulyanti, Y. 2013. Faktor – Faktor Internal yang Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Balita Usia 1-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Situ Gintung Ciputat Tahun 2013. Skripsi. Fakultas kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Buku Ajar Imunisasi. Jakarta : Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.