Article
Mengenal Lebih Dekat Tentang MERS
Juli 3, 2015
0

index

Merebaknya kasus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Korea Selatan menyebabkan peningkatan kewaspadaan semua pihak di banyak negara, termasuk di Indonesia. Kondisi ini dikarenakan kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus jenis Coronavirus ini adalah sangat tinggi, mengingat tingginya mobilitas penduduk yang bepergian ke daerah rawan infeksi atau dari daerah rawan infeksi. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Indonesia untuk mencegah menyebarnya penyakit ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperketat pengawasan jalur masuk di bandar udara dan pelabuhan. Selain itu, pemerintah Indonesia juga telah memberikan peringatan travel warning bagi warga yang ingin bepergian ke Korea Selatan agar tetap waspada terhadap bahaya penularan MERS ini (Joon, 2015). Meskipun demikian, peluang terinfeksi MERS ini juga tetap ada dan bahaya yang ditimbulkan sangat mengancam kesehatan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang bahaya MERS hendaknya dimiliki oleh semua orang agar upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan apabila ada orang yang terinfeksi.

Kasus MERS pertama kali mucul di daerah Timur Tengah, tepatnya di daerah Jordania pada tahun 2012. Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, sebanyak 3-4 orang dari 10 orang yang terinfeksi MERS meninggal dunia (CDC, 2015). Oleh karena itu, keberadaan MERS ini menjadi penyakit baru yang sangat berbahaya dan berpotensi menjadi epidemi global. Belum diketahui dengan jelas asal mula virus ini menyebar, namun, beberapa peneliti menduga bahwa penyebaran virus berasal dari salah satu jenis Kelelawar yang banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah. Kesimpulan dicapai setelah para peneliti menemukan adanya kecocokan genetik 100 persen pada virus yang menginfeksi kelelawar jenis tersebut dengan manusia pertama yang terinfeksi. Spekulasi lain yang terdapat di kalangan para peneliti menyebutkan bahwa selain Kelelawar, Unta juga diduga kuat berkaitan dengan asal mula dan penyebaran virus Corona, dimana ditemukan antibodi terhadap virus ini dalam tubuh hewan khas Timur Tengah itu. Mekanisme penyebaran virus Corona dari hewan ke manusia masih diteliti sampai saat ini, meskipun ada dugaan bahwa manusia pertama yang terinfeksi mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering Kelelawar yang terinfeksi. Saat ini, para peneliti masih menyelidiki kemungkinan hewan lain yang menjadi mediator penularan virus Corona guna menangani meluasnya penyebaran penyakit ini, mengingat bahwa jenis virus ini dikatakan lebih mudah menular antar-manusia dengan dampak yang lebih mematikan dibandingkan SARS

Gejala yang timbul apabila terinfeksi MERS dapat dilihat dengan indikasi utama seperti demam, bersin, dan batuk, yang akhirnya berujung pada kematian akibat beberapa komplikasi serius yang terjadi seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multiorgan, gagal ginjal, koagulopati konsumtif, dan perikarditis serta pneumonia berat. Penanganan yang tepat hendaknya dilakukan apabila sudah terdapat gejala-gejala seperti di atas. Bagi yang ingin bepergian ke tempat-tempat yang berisiko tinggi dalam penularan MERS, hendaknya selalu waspada dan siapkan diri dengan menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, selalu memperbaharui informasi terbaru terkait perkembangan MERS agar pengetahuan anda lebih lengkap.

Works Cited

CDC. (2015, February 4). Middle East Respiratory Sydrome (MERS). Retrieved from Center for Disease Control and Prevention: http://www.cdc.gov/coronavirus/mers/about/symptoms.html#

Joon, Y. (2015, June 18). Voice of America. Retrieved from www.voaindonesia.com: http://www.voaindonesia.com/content/jumlah-korban-tewas-mers-di-korea-selatan-capai-23/2827172.html