Article
“Tubuh Balita Lebih Pendek dari Balita Normal? Waspada! Itu Pertanda Stunting”
Juli 23, 2017
0

                 Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang tumbuh dengan normal dan tidak mengalami gangguan apapun dari mereka bayi hingga tumbuh dewasa. Namun, apa yang terjadi jika mereka memiliki anak yang lahir dengan keadaan yang kurang sehat dan akhirnya tumbuh secara tidak normal? Maka dari itu perlu pengetahuan dari para calon orang tua agar mampu mencegah kelainan kesehatan pada anak mereka nantinya. Salah satu kelainan kesehatan yang umum dialami oleh anak-anak adalah gangguan pertumbuhan. Berdasarkan data, kasus gangguan pertumbuhan yang sering terjadi di Indonesia adalah stunting.

            Menurut data Pemantauan Status Gizi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2015, didapatkan hasil bahwa 29% atau hampir sepertiga dari seluruh balita di Indonesia masih mengalami stunting. Kejadian stunting sudah termasuk dalam permasalahan kesehatan yang harus ditangani oleh pemerintah, karena menurut WHO apabila kasus stunting tercatat hingga lebih 20% maka penyakit tersebut termasuk dalam permasalahan kesehatan yang wajib untuk ditanggulangi. Maka dari itu, upaya penurunan prevalensi stunting menjadi salah satu dari empat prioritas Pembangunan Kesehatan Indonesia periode 2015-2019 (Kemenkes RI, 2016). Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan stunting?

Stunting merupakan permasalahan gizi.

            Stunting adalah permasalahan gizi kronis yang diakibatkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai saat janin masih di dalam kandungan dan tanda-tanda stunting biasanya terlihat jelas saat bayi berumur 2 tahun (MCA Indonesia, 2017).  Stunting ditandai dengan panjang tubuh balita yang lebih pendek dari balita normal. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, penentuan pendek dan sangat pendek pada balita ini didasarkan pada Indeks Panjang Badan Menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U). Balita pendek dapat diketahui apabila seorang balita telah diukur panjang dan tinggi tubuhnya, lalu hasilnya dibandingkan dengan ukuran standar pada kelompok umur balita tersebut dan hasilnya menunjukan bahwa panjang tubuh balita tersebut berada dibawah normal (Kemenkes RI, 2016).

 

Stunting dapat menyebabkan dampak jangka pendek dan jangka panjang.

            Dampak jangka pendek yang disebabkan oleh stunting muncul pada saat masa kanak-kanak misalnya yaitu terhambatnya perkembangan, penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh dan terganggunya sistem pembakaran tubuh. Sedangkan dampak jangka panjangnya akan timbul saat anak tersebut sudah dewasa misalnya yaitu timbulnya risiko menderita penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi dan terjadinya obesitas (Sidauruk, 2015)

 

Beberapa faktor risiko penyebab stunting.

  1. Wanita hamil dengan ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) kurang dari 23,5 cm.

            Wanita hamil yang memiliki LILA kurang dari 23,5 cm memiliki risiko untuk mengalami KEK atau Kurang Energi Kronis. KEK dapat disebabkan oleh asupan energi dan protein yang tidak mencukupi. Ibu hamil dengan KEK memiliki risiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) dan apabila keadaan ini tidak segera ditangani, bayi tersebut akan kemungkinan mengalami stunting di waktu yang akan datang.

  1. Anemia Pada Ibu Hamil

            Kondisi yang sering terjadi pada ibu hamil yaitu anemia, terutama anemia defisiensi besi. Di seluruh dunia, tercatat sebanyak 41,8% ibu hamil mengalami anemia. Anemia pada ibu hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi saat kehamilan maupun setelah melahirkan.

  1. Kondisi Bayi Yang Berat Lahir Rendah (BBLR)

            BBLR yiatu keadaan bayi yang terlahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Keadaan ini dapat membawa risiko kematian, gangguan pertumbuhan dan perkembangan, serta berisiko menyebabkan stunting. Angka BBLR di Indonesia tahun 2013 menyentuh angka 10,2% dari seluruh balita yang ada di Indonesia.

  1. Asupan ASI yang Kurang

            Pada bayi, ASI (Air Susu Ibu) berperan sangat penting dalam pemenuhan nutrisinya. Konsumsi ASI dapat meningkatkan kekebalan tubuh sehingga menurunkan risiko terserang penyakit infeksi. ASI juga sangat penting untuk proses pertumbuhan pada bayi. Sehingga apabila bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup maka hal itu dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Maka dari itu, Pemerintah melalui UU No. 33 tahun 2012 telah merekomendaikan pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga berumur 6 bulan. Ini berarti bayi disarankan hanya mengonsumsi ASI saja tanpa makanan pendamping hingga berumur 6 bulan. (Kemenkes RI, 2016)

Pencegahan utamanya adalah pemberian gizi yang baik selama kehamilah dan setelah lahir.

            Pada ibu hamil, pencegahan agar anak yang ia lahirkan kelak tidak mengalami stunting dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang baik agar gizi selama kehamilan dapat tercukupi. Apabila mengalami KEK (Kerkurangan Energi Kronis) maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut. Selain itu, seorang ibu hamil perlu mengonsumsi tablet tambah darah minimal 90 kali selama kehamilan untuk mencegah terjadinya anemia. Serta, sang ibu harus tetap menjaga kesehatannya agar tidak terserang penyakit.

            Pada saat melahirkan, proses persalinan harus ditolong oleh bidan atau dokter terlatih agar mencegah terjadinya permasalahan selama proses persalinan. Lalu setelah bayi lahir harus segera melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Saat bayi berusia 0 hingga 6 bulan, bayi sebaiknya diberikan ASI eksklusif yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa memberikan makanan lainnya kepada sang bayi. Setelah bayi berusia 6 bulan, maka mulai diberikan makanan lain selain ASI sebagai makanan pendamping ASI. Meskipun sudah diberikan makanan lain, sebaiknya bayi tetap diberikan ASI hingga berumur 2 tahun. Untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, bayi juga wajib mendapatkan imunisasi lengkap. Lalu, sebagai upaya deteksi dini terhadap stunting dan berbagai kelainan pertumbuhan lainnya, balita harus secara rutin dibawa ke posyandu untuk dipantau pertumbuhannya sehingga apabila memang terjadi gangguan pertumbuhan dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara cepat dan tepat.

            Selain upaya perbaikan gizi secara langsung, pencegahan terhadap stunting dapat juga dilakukan dengan penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Penerapan PHBS yang baik mampu menurunkan kemungkinan tubuh terserang penyakit terutama penyakit infeksi yang membuat energi yang seharusnya dipergunakan untuk pertumbuhan teralihkan untuk perlawanan tubuh menghadapi infeksi, sehingga gizi sulit diserap oleh tubuh dan akhirnya terhambatlah pertumbuhan tubuh. (Kemenkes RI, 2016)

Pengobatan stunting dapat dilakukan dengan perbaikan asupan gizi.

            Menurut Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp. A(K), spesialis anak, konsultan nutrisi, dan penyakit metabolik yang dikutip dari situs intisari.grid.id, stunting pada anak berumur dibawah 3 tahun atau 1000 hari pertama sulit untuk diperbaiki. Namun, ada harapan dapat diperbaiki ketika masa pubertas, tergantung dari bagaimana orang tua anak bersangkutan dapat mengoptimalkan asupan nutrisi kepada anaknya (Sidauruk, 2015).

Daftar Pustaka

Kemenkes RI. 2016. Infodatin : Situasi Balita Pendek. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

 MCA Indonesia. 2017. Backgrounder : Stunting dan Masa Depan Indonesia. diakses melalui http://www.mca-indonesia.go.id (diakses pada 12 Juli 2017)

Sidauruk, Esra Dopita M. 2015. Kenali “Stunting” Pada Anak. diakses melalui intisari.grid.id  (Diakses pada 12 Juli 2017)