Article
Yakin Hanya Sakit Perut Biasa?
Februari 19, 2017
0

kanker-kolorektalSebagian orang yang mengalami sakit perut akan menganggapnya sebagai sakit perut biasa. Padahal, dibalik gejala sakit perut itu, mungkin saja orang tersebut mengalami sebuah penyakit yang mematikan, misalnya yaitu kanker kolorektal. Hal itu dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala kanker tersebut.

Kanker kolorektal atau kanker usus besar merupakan pembelahan sel yang tidak normal dan tidak dapat dikontrol yang terjadi pada lapisan dinding usus besar (kolon) dan rektum manusia. Kanker usus besar ini cenderung lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Secara keseluruhan, kanker ini berisiko menyerang 1 dari 20 orang (Basir, 2016). Di dunia, kanker kolorektal menempati urutan ke-4 sebagai kanker  penyebab kematian tertinggi. WHO memperkirakan ada 945.000 kasus baru setiap tahunnya dengan 492.000 kematian (Siregar, 2007).

Gejala-gejala yang timbul pada seseorang yang menderita kanker kolorektal adalah terjadinya pendarahan pada saluran cerna bagian bawah yang ditandai dengan keluarnya darah saat buang air besar, meningkatnya jumlah feses yang diproduksi dan seringkali disertai dengan diare yang berlangsung hingga lebih dari 6 minggu. Selain itu, gejala yang lain yaitu adanya tanda-tanda sumbatan pada usus serta terjadinya penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas (Basir, 2016).

Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kanker kolorektal dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu usia, faktor herediter dan faktor lingkungan. Diagnosis kasus kanker kolorektal meningkat saat usia 40 tahun, dan sebanyak 90% kasus kanker kolorektal terjadi pada orang yang berusia diatas 50 tahun. Lalu, pada umur 60-79 tahun, angka kejadiannya akan 50 kali lebih tinggi dari usia dibawah 40 tahun. Faktor herediter (keturunan) juga sangat berpengaruh dalam kejadian kanker kolorektal, karena 20% kasus kanker kolorektal terjadi karena riwayat keluarga. Lalu yang terakhir yaitu faktor lingkungan, yang meliputi jumlah populasi penduduk, migrasi penduduk dan letak geografis, karena jumlah kasus kanker kolorektal cenderung lebih tinggi diperkotaan dengan populasi penduduk yang padat. Adapun yang termasuk dalam faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah pola diet dan nutrisi, aktifitas fisik dan obesitas, merokok, dan alkohol. Individu yang mengopnsumsi daging merah akan lebih berisiko terserang kanker kolorektal. Lalu, menurut penelitian, mereka yang mengonsumsi makanan yang bernutrisi baik seperti sayur, buah-buahan dan sereal akan memiliki risiko yang lebih kecil terserang kanker ini. Selain itu, pola diet juga sangat berpengaruh. Diet dengan asupan serat yang cukup sangat dianjurkan karena dapat menurunkan presentase lemak dan dapat meningkatkan kepadatan feses. Faktor risiko selanjutnya yaitu aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik akan meningkatkan kemungkinan menderita obesitas. Obesitas dapat mengakibatkan penimbunan hormon esterogen, peningkatan kadar insulin dan insulin-like growth favtor-1 (IGF-1), dan memicu pertumbuhan tumor, sehingga akan semakin memicu terjadinya kanker koloretral. Selanjutnya, kebiasaan merokok akan meningkatkan pertumbuhan sel kanker kolorektal. Berdasarkan data, didapatkan bahwa 12% kematian akibat kanker kolorektal berhubungan dengan kebiasaan merokok. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi alkohol juga berpengaruh terhadap insiden kanker kolorektal. Alkohol dapat meningkatkan kasus kolorektal karena alkohol mengandung metabolit yang bersifat karsinogenik, serta kebiasaan minum lakohol berhubungan dengan asupan nutrisi yang rendah (Khosama, 2015).

Pencegahan kanker kolorektal dapat dilakukan mulai dari pelayanan kesehatan melalui program Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) pada masyarakat umum. Sehingga mereka akan sadar dan mampu menjauhi faktor risiko kanker kolorektal yang dapat dimodifikasi, serta melalui program KIE ini maka pelaksanaan skrining dan deteksi dini di masyarakat akan mampu berjalan, terutama bagi masyarakat yang berisiko tinggi terserang kanker kolorektal (Basir, 2016). Skrining merupakan suatu prosedur yang menilai seseorang tanpa gejala untuk mengetahui apakah orang tersebut memiliki ririko terhadap kemungkinan kanker kolorektal. Dengan melakukan skrining, setiap individu akan mampu melakukan pencegahan dan antisipasi lebih awal agar tidak menderita kanker kolorektal (Siregar, 2007).

Jalur pengobatan yang biasa diambil untuk kanker kolorektal yaitu tindakan operasi, dengan cara mengangkat sel-sel kanker sehingga akan mengurangi tingkat kesakitan penderita kanker. Tindakan operasi dapat mencapai hasil yang maksimal sehingga pasien tidak perlu melakukan kemoterapi atau radioterapi. Namun, sebagian besar pasien kanker kolorektal masih memerlukan kemoterapi atau radioterapi. Kemoterapi dan radioterapi ini bertujuan untuk mengurangi kekambuhan dari penyakit kanker tersebut dan meningkatkan kelangsungan hidup pasien (Siregar, 2007).

Jadi, apakah masih yakin kalau sakit perut yang dirasakan hanya sakit perut biasa? Maka dari itu, pahami gejala dan pencegahannya untuk menjauhkan diri dari serangan kanker kolorektal.

 

Daftar Pustaka

Basir, Ibrahim, et.al. 2016. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kanker Kolorektal. Jakarta. Kementerian Kesehatan.

Khosama, Y. (2015). Faktor Risiko Kanker Kolorektal. CDK-234, Vol 42 (11), 429-432.

Siregar, Gontar Alamsyah. 2007. Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Kanker Usus Besar. Medan, Universitas Sumatera Utara.