Article
Yuk, Kenali dan Cegah Penyakit Tetanus Sejak Dini!
Maret 20, 2019
0

Tetanus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi hampir di seluruh negara yang ada di dunia. Penyakit ini merupakan penyakit akut yang menyerang susunan saraf pusat. Penyakit ini dapat menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan oleh tetanospasmin. Tetanospasmin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani. Tetanus dapat menyebabkan kematian 309.000 orang per tahunnya. Dilaporkan lebih dari satu juta kasus tiap tahunnya di negara berkembang. Sampai saat ini tetanus masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang akibat rendahnya akses program imunisasi dan juga penatalaksanaan tetanus modern membutuhkan fasilitas Intensive Care Unit (ICU) bagi pasien tetanus berat yang jarang tersedia (Safrida et al., 2018).

Apa saja penyebab tetanus?

Penyakit tetanus disebabkan oleh tetanospasmin yaitu sejenis neurotoksin atau racun yang diproduksi oleh Clostridium tetani (basil gram positif). Mikrobakterium ini biasanya masuk ke dalam luka yang terbuka, berkembang biak secara anaerobik dan akan membentuk toksin. Tetanospasmin disebut juga neurotoksin karena toksin ini melalui beberapa jalan dapat mencapai susunan saraf pusat (Sumarmo et al., 2008). Selain itu, penyakit ini timbul jika kuman tetanus masuk ke dalam tubuh melalui gigitan serangga, infeksi gigi, infeksi telinga, bekas suntikan dan pemotongan tali pusat. Kuman ini kemudian tumbuh berkembang biak dan menghasilkan eksotoksin antara lain tetanospamin yang secara umum menyebabkan kekakuan, spasme dari otot bergaris (Safrida et al., 2018).

Bagaimana cara penularan tetanus?

Penyakit tetanus terjadi dengan cara Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh melalui luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca atau kaleng, luka tembak, luka bakar, dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Organisme mengeluarkan dua toksin yaitu tetanospasmin atau neurotoksin yang merupakan toksi kuat, dapat menyebabkan ketegangan otot dan mempengaruhi sistem saraf pusat serta tetanolysin yang merupakan toksin sekunder. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun, toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh antitoksin (Zulkoni, 2011).

Bagaimana gejala orang yang mengalami tetanus?

Secara umum, gejala orang yang mengalami penyakit tetanus yaitu sebagai berikut (Ritarwan, 2004):

  1. Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama dan menetap selama 5-7 hari.
  2. Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekuensinya.
  3. Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
  4. Biasanya didahului dengan ketegangan otot terutama pada rahang dari leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut karena spasme otot masetter.
  5. Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk.
  6. Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat.
  7. Gambaran umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus.
  8. Eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasana kesadaran tetap baik.
  9. Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urine, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak).

Apa saja langkah-langkah pencegahan terjadinya tetanus?

Beberapa langkah untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus yaitu sebagai berikut (Sumarmo et al., 2015):

  1. Perawatan luka. Perawatan luka harus segera dilakukan terutama pada luka tusuk, luka kotor atau luka yang diduga tercemar dengan spora tetanus.
  2. Pemberian Anti Tetanus Serum (ATS) dan tetanus toksoid pada luka. Profilaksis dengan pemberian ATS hanya efektif pada luka baru (kurang dari 6 jam) dan harus segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif.
  3. Imunisasi aktif. Imunisasi Aktif yang diberikan yaitu DPT, DT, atau tetanustoksoid. Jenis imunisasi tergantung dari golongan umur dan jenis kelami. Vaksin DPT diberikan sebagai imunisasi dasar sebanyak 3 kali, DPT IV pada usia 18 bulan dan DPT V pada usia 5 tahun dan saat usia 12 tahun diberikan DT. Tetanustoksoid diberikan pada setiap wanita usia subur, perempuan usia 12 tahun dan ibu hamil.

Nah, dari penjelasan diatas sudah tahu kan bahwa tetanus itu sangat berbahaya? Oleh karena itu, mari kita cegah sebelum terlambat dengan membiasakan diri untuk menjaga kebersihan tubuh dan selalu waspada jika mengalami luka di sekitar tubuh kita!

Sumber:

Ritarwan, K. 2004. Tetanus. http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf. 17 Maret 2019 (20:44).

Safrida, W. dan Syahrul. 2018. Tata Laksana Tetanus Generalisata dengan Karies Gigi (Laporan Kasus). Cakradonya Dent J 10(1): 86-95.

Sumarmo, S.S.P., Garna, H., Hardinegoro S.R.S., dan Satari, H.I. 2008. Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis: Tetanus Edisi 2. Jakarta: IDAI.

Sumarmo, S.S.P., Garna, H., Hardinegoro S.R.S., dan Satari, H.I. 2015. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi Ke- 2. Jakarta: IDAI.

Zulkoni, A. 2011. Parasitologi Untuk Keperawatan, Kesehatan Masyarakat dan Teknik Lingkungan. Yogyakarta: Nuha Medika.