Article
Eksistensi Etnomedisin di Indonesia : Top Ten List Tanaman Obat Tradisional Nusantara
September 24, 2020
0

Sejak zaman dahulu, pengobatan tradisional yang mengandalkan alam sebagai penunjang kesehatan masyarakat tertentu sudah dikenal dengan baik. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, muncul istilah etnomedisin sebagai ilmu yang mempelajari etnis lokal dalam menjaga kesehatannya. Secara etimologi, etnomedisin berasal dari dua kata, yaitu etno (etnis atau suku) dan medisin (obat). Hal ini menunjukkan etnomedisin sebagai upaya menjaga atau meningkatkan kesehatan pada suatu etnis tertentu (Silalahi, 2016). Melihat kondisi nyata, pemanfaatan alam untuk kesehatan bersumber dari tumbuhan dan hewan, namun pemanfaatan sumber daya tumbuhan obat lebih dominan digunakan oleh masyarakat sebagai penerapan etnomedisin mereka. Menurut Jaradat Dalam Mustofa dkk. (2018), pemanfaatan tanaman obat bertujuan untuk mencegah dan mengatasi suatu penyakit.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengobatan tradisional yang termasuk dalam lingkup etnomedisin merupakan pengetahuan, keyakinan, dan praktik dalam pengobatan yang didasarkan pada pengalaman masyarakat adat atau etnis tertentu sebagai upaya peningkatan derajat kesehatan. Pada tahun 2013, WHO juga menaruh perhatian pada dunia etnomedisin dengan disusunnya strategi pengobatan tradisional WHO dengan tujuan, sebagai berikut (Junaidi, 2016) :

  1. Memanfaatkan potensi pengobatan tradisional untuk kesehatan rakyat.
  2. Mempromosikan pengobatan tradisional yang efektif dan aman kepada rakyat.

Melihat ke dalam negeri, Indonesia merupakan negara dengan etnis beragam dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat menunjang etnomedisin sebagai upaya kesehatan. Pengobatan tradisional telah membudaya bagi seluruh masyarakat Indonesia, sehingga penggunaan tumbuhan obat telah menjadi kebiasaan dalam mencapai derajat kesehatan yang sebaik-baiknya (Ihsan dkk., 2016). Hal ini didukung oleh keragaman spesies tumbuhan di Indonesia antara 25.000-30.000 yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Keragaman tumbuhan tersebut turut didukung dengan Indonesia yang beriklim tropis, sehingga terdapat sekitar 50 tipe ekosistem penunjang keragaman vegetasi. Dengan demikian, etnis di Indonesia telah memanfaatkan tumbuhan alami sebagai pengobatan tradisional mereka (Silalahi, 2016). Pengobatan tradisional berbasis etnomedisin juga masih eksis di masyarakat, terbukti dengan proporsi pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional mencapai 31,4% pada tahun 2018 menurut Riskesdas 2018. Selain itu, hasil riset ini juga menunjukkan proporsi pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai bagian dari pengobatan tradisional mencapai 24,6%. Dengan demikian, eksistensi etnomedisin masih terlihat nyata di Indonesia (Kemkes, 2018).

Berdasarkan penelitian oleh Silalahi dkk. (2018) tentang etnomedisin tumbuhan obat, pemanfaatan tumbuhan yang berkhasiat obat menggunakan hampir seluruh bagian tumbuhan. Pemanfaatan tumbuhan obat mulai dari akar, umbi, rizoma, batang, daun, bunga, buah, sampai getahnya. Adapun 10 jenis tumbuhan obat yang populer digunakan masyarakat Indonesia, sebagai berikut (Astuti dkk., 2017) :

  1. Alang-alang mengandung polifenol dan antioksidan sebagai pengatur tekanan darah arteri.
  2. Bawang mutiara mengandung alkoloid, glikosida, flavonoid, fenolik, steroid, dan tanin sebagai antiradang.
  3. Belimbing wuluh mengandung flavonoid, saponin, triterpenoid, dan tanin sebagai antimikroorganisme parasit.
  4. Binahong mengandung saponin, flavonoid, dan minyak atsiri sebagai penurun asam urat.
  5. Cengkeh mengandung eugenol, saponin, flavonoid, dan tanin sebagai penghangat tubuh.
  6. Jahe merah mengandung zhingerol, shogaol, resin, dan oleoresin sebagai antimual.
  7. Kelapa muda mengandung tanin sebagai penetral racun dan antigatal.
  8. Kunyit mengandung tumiron, zingiberon, kurkumin, dan vitamin C sebagai antiradang.
  9. Kumis kucing mengandung saponin dan plavonoid sebagai antidiabetes mellitus.
  10. Temulawak mengandung kurkumin dan xantorrizol sebagai penurun kolesterol dan antikanker.

Khasiat tanaman obat sudah dikenali dengan baik oleh masyarakat lokal Indonesia. Setiap daerah memiliki cara pengolahan tersendiri dalam memanfaatkan tanaman obat tradisional. Budaya memanfaatkan sumber daya alam untuk menjaga atau meningkatkan kesehatan telah diturunkan ke setiap generasi. Pengolahan dan tujuan penggunaan yang tepat dapat memberikan efek yang baik terhadap proses pengobatan gejala penyakit atau penyakit tertentu. Perkembangan ilmu pengetahuan juga semakin mendukung perkembangan etnomedisin di dunia, termasuk Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

Astuti, H. dkk. 2017. Identifikasi Pelaku Etnomedisin dan Informasi Jenis Tanaman Obat yang Digunakan dan Tumbuh di Provinsi Lampung (Kajian Pengembangan Taman Herbal di Provinsi Lampung Tahun 2017.  Inovasi Pembangunan : Jurnal Kelitbangan, 05(03), pp. 228–247.

Ihsan, S. dkk. 2016. Studi Etnomedisin Obat Tradisional Lansau Khas Suku Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Pharmauho, 2(1), pp. 27–32.

Junaidi. 2016. Praktik Etnomedisin dalam Manuskrip Obat-Obatan Tradisional Melayu. Jurnal Manuskripta, 6(2), pp. 59–77.

Kemkes. 2018. Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Mustofa, F. I. dkk. 2018. Studi Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Yang Digunakan Oleh Penyehat Tradisional Untuk Mengatasi Diare Di Sulawesi Selatan. Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia, 11(2), pp. 17-32.

Silalahi, M. 2016. Studi Etnomedisin di Indonesia dan Pendekatan Penelitiannya. Jurnal Dinamika Pendidikan, 9(3), pp. 117–124.

Silalahi, M. dkk. 2018. Etnomedisin Tumbuhan Obat Oleh Subetnis Batak Phakpak di Desa Surung Mersada, Kabupaten Phakpak Bharat, Sumatera Utara. Jurnal Ilmu Dasar, 19(2), pp. 77–92.