MELAWAN DISKRIMINASI: TRANSFORMASI PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP ORANG DENGAN TUBERKULOSIS
Maret 29, 2024
0

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini memiliki bentuk batang dan bersifat tahan terhadap asam sehingga dikenal dengan Basil Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman TB sering ditemukan menginfeksi parenkim paru dan menyebabkan TB paru, selain itu bakteri ini juga memiliki kemampuan untuk menginfeksi organ tubuh lainnya (TB ekstra paru) seperti pada pleura, tulang, kelenjar limfa, dan organ ekstra paru lainnya. 

Stigma masyarakat terhadap orang yang terkena tuberkulosis (TB) masih menjadi kenyataan yang merugikan dan memprihatinkan. Orang yang mengidap penyakit ini sering kali dihadapkan pada sikap diskriminatif dan stereotip negatif dari lingkungan sekitarnya. Masyarakat cenderung menganggap penderita TB sebagai individu yang kurang menjaga kesehatan, kurang bersih, atau bahkan dianggap sebagai sumber penularan penyakit yang dapat membahayakan orang lain.

Stigma terhadap TB sering kali muncul karena ketidakpahaman mengenai penyakit ini dan kurangnya informasi yang benar. Orang yang menderita TB sering kali dijauhi atau diisolasi, baik secara sosial maupun ekonomi, karena takut tertular atau merasa bahwa penderita TB membawa malapetaka. Selain itu, stigma ini juga dapat mengakibatkan penghambatan dalam akses penderita TB terhadap pelayanan kesehatan yang sesuai, karena mereka merasa malu atau takut dijauhi oleh petugas kesehatan atau masyarakat setempat.

Penularan penyakit TB sebenarnya melalui droplet yang terinfeksi di udara. Begitu tetesan ini memasuki udara, siapa pun di dekatnya dapat menghirupnya. Seseorang dengan TB dapat menularkan bakteri melalui bersin, batuk, berbicara, dan nyanyian. Setelah itu, bakteri tersebut akan menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening ke bagian tubuh lainnya seperti ginjal, tulang belakang, dan otak, yang kemudian menyebabkan infeksi (CDC, 2016). Setelah itu, bakteri tersebut akan menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening kebagian tubuh lainnya seperti ginjal, tulang belakang, dan otak, yang kemudian menyebabkan infeksi (CDC, 2016). Transmisi terjadi lebih efisien di dalam ruangan misalnya rumah, rumah sakit, pabrik, klinik, dan lain-lain (Nardell, 2016).

Pentingnya mengatasi stigma terhadap TB tidak hanya terletak pada upaya penyembuhan fisik penderita, tetapi juga pada pembentukan pemahaman yang lebih baik dalam masyarakat mengenai penyakit ini. Edukasi, peningkatan kesadaran, dan kampanye anti-stigma menjadi kunci dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap penderita TB. Dengan demikian, dapat diciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi mereka yang mengalami TB, sehingga proses penyembuhan dapat berjalan lebih efektif dan manusiawi. Berikut mitos dan pandangan negatif tentang TB.

Apakah TB merupakan kutukan?

Bukan ya teman-teman. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, jadi bukan merupakan kutukan yang tidak diketahui penyebabnya.

Apakah TB merupakan penyakit keturunan?

Tidak ya teman-teman. TB tidak dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Penularan terjadi jika terdapat percikan dahak yang terhirup.

Apakah pasien TB adalah orang yang berperilaku buruk?

Penyakit TB tidak berkaitan dengan perilaku buruk. Siapapun tanpa memandang perilaku dan sikapnya dapat tertular TB jika sistem kekebalan tubuhnya lemah, lalu terpapar dengan percikan dahak yang mengandung bakteri TB.

Apakah TB menular melalui peralatan makan dan peralatan mandi?

TB tidak akan menular melalui peralatan makan dan mandi. Apabila peralatan tersebut selalu dijaga kebersihannya, misalnya dicuci setelah digunakan, maka kuman TB tidak akan dapat menular melalui peralatan tersebut.

Apakah pasien TB harusnya dilarang menggunakan fasilitas umum?

Selama pasien TB tetap menggunakan masker dan menjaga kebersihan, maka penggunaan fasilitas umum tidak akan bermasalah. Kita juga tetap harus menjaga kebersihan.

Apakah pasien TB harus dijauhi?

Menjauhi pasien TB hanya akan membuat mereka merasa terkucilkan dan tidak mau diobati, akhirnya akan tetap dapat menularkan ke yang lain. Jadi, jangan pernah menjauhi pasien TB. Kita support terus ya teman-teman.

Jika tidak boleh menjauhi pasien TB, bagaimana kita menjaga diri?

Jika orang terdekat kita menderita TB, tetap dukung dengan baik, namun tetap gunakan masker medis saat berinteraksi serta menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan. 

Bagaimana jika kita curiga seseorang menderita TB?

Jika kita merasa orang terdekat kita menderita TB, segera laporkan pada Puskesmas terdekat agar dapat diperiksa dan ditindaklanjuti secara benar.

Apakah boleh mengobati pasien TB sendiri?

Sebaiknya jangan ya teman-teman. Pengobatan TB sudah diatur oleh ahli dan pemerintah. Mengobati sendiri TB dapat menyebabkan efek samping dan bahkan mengurangi keefektifan pengobatan, yang dapat membuat lebih sulit untuk menghilangkan penyakit tersebut. 

Apakah TB bisa disembuhkan?

Tentu bisa ya teman-teman. TB dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan patuh, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama (biasanya sekitar 6 bulan). Apabila seseorang menjalani pengobatan dengan disiplin, penyakit TB akan bisa disembuhkan sepenuhnya.

 

KENALI, LAPORKAN, DAN DUKUNG PASIEN TUBERKULOSIS UNTUK SEMBUH!

 

DAFTAR PUSTAKA

CDC. (2016). How TB Spreads, Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Online. Available at: (https://www.cdc.gov/tb/topic/basics/howtbspreads.htm ) Accessed: 23 January 2024.

INDONESIA, K. K. (2020). PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATALAKSANA TUBERKULOSIS. Jakarta.

Nardell, E. A. (2016) ‘Transmission and Institutional Infection Control of Tuberculosis’, Cold Spring Harbor Perspectives in Medicine. Cold Spring Harbor Laboratory Press, 6(2). doi: 10.1101/cshperspect.a018192.

Zulfa, I. M., & Yunitasari, F. D. (2023). MITOS TUBERKULOSIS. Surabaya: Akademi Farmasi Surabaya.