PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP PENINGKATAN TEKANAN DARAH: PAHAMI BAHAYA ROKOK, LINDUNGI DIRI DARI HIPERTENSI DENGAN UPAYA PREVENTIF
Mei 22, 2021
0

“Siapa yang paling berjasa menghilangkan kebiasaan merokok seseorang? Jawaban dari pertanyaan ini tidak lain dan tidak bukan adalah kesadaran dari perokok itu sendiri”

     Di era kontemporer ini, istilah rokok sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Aktivitas merokok bahkan telah menjadi candu sekaligus ancaman bagi generasi muda. Tidak hanya menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, merokok juga sangat membahayakan bagi kesehatan orang lain di sekitar kita. Menurut World Health Organization, aktivitas merokok telah menyebabkan kematian lebih dari 5 juta orang per tahun dan diperkirakan akan membunuh 10 juta orang hingga tahun 2020 (Tawbariah dkk., 2013). Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi perokok terbesar di dunia. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 72.723.300 perokok dan jumlah tersebut diproyeksikan akan semakin bertambah menjadi 96.776.800 perokok pada tahun 2025 (Janah & Martini, 2017).

Mengapa rokok dapat membahayakan kesehatan hingga menyebabkan kematian?

     Merokok tidak hanya membahayakan kesehatan dan menimbulkan penyakit, tetapi juga dapat menyebabkan kematian. Asap rokok mengandung lebih dari 8.000 bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Dari 8.000 bahan kimia yang terkandung dalam asap rokok, sebanyak 100 bahan kimia tersebut merupakan penyebab potensial berbagai penyakit kronis, seperti kanker paru-paru, emfisema (kerusakan kantong udara pada paru-paru), serta gangguan pada jantung dan pembuluh darah (Philip Morris International, 2018). Komponen asap rokok yang berbahaya bagi kesehatan, meliputi tar, nikotin, dan karbon monoksida. Kandungan tar inilah yang berisiko tinggi menyebabkan penyakit kanker paru-paru dan emfisema. Tar yang masuk ke peredaran darah dapat menyebabkan risiko terjadinya penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan kesuburan. Zat ini juga berbahaya bagi kesehatan gusi dan berpotensi menyebabkan kanker mulut (Septiani, 2021). Selain tar, kandungan nikotin dan karbon monoksida juga berbahaya bagi tubuh. Kandungan nikotin menyebabkan efek candu bagi perokok, sedangkan karbon monoksida merupakan gas beracun yang dapat menurunkan kinerja jantung dan fungsi otot sehingga dapat menyebabkan pusing, lemas, dan kelelahan. Tidak hanya tiga kandungan tersebut, rokok juga mengandung zat berbahaya lainnya, seperti hidrogen sianida, benzena, formaldehid, kadmium, arsenik, dan amonia (Septiani, 2021). Berdasarkan penelitian dari Yashinta Octaviana dkk (2015), zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan hipertensi (Setyananda dkk., 2015).

Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan hipertensi?

     Hipertensi atau yang dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan suatu kondisi meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg (Yonata & Pratama, 2016). Pada umumnya, hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi hipertensi yang berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan komplikasi dan timbulnya gejala berat, seperti sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak napas, gelisah, hingga menyebabkan pandangan menjadi kabur. Penderita hipertensi berat dapat mengalami penurunan kesadaran dan koma karena terjadi pembengkakan pada otak yang disebut hipertensi ensefalopati (Kemenkes RI, 2016). Beberapa faktor yang dapat memperbesar risiko seseorang menderita hipertensi, seperti jenis kelamin, umur, faktor genetik, obesitas, konsumsi garam, konsumsi alkohol, stres, kurang berolahraga, dan merokok (Yonata & Pratama, 2016).

Mengapa sih aktivitas merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi?

     Merokok merupakan faktor risiko kejadian hipertensi nomor tiga setelah faktor genetik dan stres psikologis. Kandungan nikotin pada rokok dapat merangsang sistem saraf simpatik sehingga melepaskan hormon stres norepinephrine (hormon yang dapat meningkatkan tekanan darah dengan menyempitkan pembuluh darah) (Tawbariah dkk., 2013). Pelepasan hormon norepinephrine akan mengikat hormon receptor alfa-1. Hormon ini akan mengalir dalam pembuluh darah ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan pembuluh darah mengkerut dan jantung berdenyut lebih cepat. Kondisi ini berpengaruh pada penyempitan pembuluh darah dan dapat menyebabkan aliran darah terhalang sehingga tekanan darah akan meningkat (Tawbariah dkk., 2013). Selain kandungan nikotin, karbon monoksida yang terkandung dalam rokok dapat berpengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah. Menghisap karbon monoksida secara berlebihan dapat menyebabkan pasokan oksigen di dalam tubuh berkurang. Ketika gas karbon monoksida masuk ke dalam tubuh, kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen akan berkurang. Hal ini dapat terjadi karena gas karbon monoksida lebih lebih mudah terikat dengan hemoglobin dibandingkan gas oksigen. Akibat adanya pengikatan gas karbon monoksida oleh hemoglobin, tubuh akan mengalami kekurangan pasokan oksigen. Sel tubuh yang mengalami kekurangan oksigen akan berusaha untuk memasok oksigen dengan cara meningkatkan kompensasi pembuluh darah. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah di dalam tubuh (Alawiyah dkk., 2014).

     Tekanan darah merupakan salah satu faktor yang sangat penting pada sistem sirkulasi. Penurunan atau peningkatan tekanan darah dapat memengaruhi keseimbangan kondisi internal tubuh. Apabila sistem peredaran darah terganggu, maka akan menyebabkan gangguan pada sistem tubuh lainnya, seperti gangguan pada sistem pernapasan, gangguan sistem pembentukan urin di dalam ginjal, dan gangguan pembentukan cairan  pada otak (cairan cerebrospinal) (Tawbariah dkk., 2013).

Lalu, apa saja upaya pencegahan hipertensi yang harus dilakukan?

     Pencegahan hipertensi atau tekanan darah tinggi, dapat dilakukan dengan tiga tingkatan pencegahan, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

  1. Pencegahan Primer

     Pencegahan primer merupakan pencegahan penyakit yang ditujukan bagi individu yang sehat. Pada tahap pencegahan primer, upaya yang dapat dilakukan untuk menekan kejadian hipertensi, yaitu melaksanakan gaya hidup sehat, seperti mengurangi konsumsi rokok dan alkohol, rutin berolahraga, serta mengurangi konsumsi makanan yang berkolesterol tinggi (Ngurah & Yahya, 2015).

  1. Pencegahan Sekunder

     Pencegahan sekunder merupakan pencegahan penyakit yang ditujukan bagi individu yang mengalami masalah kesehatan dan berisiko mengalami kondisi yang memburuk. Pencegahan sekunder hipertensi dapat dilakukan dengan melaksanakan pengukuran tekanan darah secara berkala untuk mengetahui dan mengevaluasi kondisi tekanan darah (Ngurah & Yahya, 2015).

  1. Pencegahan Tersier

     Pencegahan tersier merupakan pencegahan penyakit yang ditujukan untuk membatasi ketidakmampuan dan mencegah komplikasi lanjut. Pencegahan tersier hipertensi dapat dilakukan dengan treatment atau pengobatan yang tepat agar tekanan darah dapat terkontrol dengan baik sehingga tidak menimbulkan komplikasi, seperti penyakit strok, jantung, dan ginjal kronik (Ngurah & Yahya, 2015).

 

DAFTAR PUSTAKA

Alawiyah, T., Simanjuntak, K. & Indrawati, R., 2014. Hubungan Usia, Merokok terhadap Kejadian Hipertensi pada Nelayan di Puskesmas Kertawinangun Indramayu. Jurnal Bina Widya, 25(2), pp. 89-94.

Janah, M. and Martini, S., 2017. Hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian prehipertensi relationship between secondhand smoke and prehypertension. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo3(2), pp.131-144.

Kemenkes RI, 2016. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi). [Online]
Available at: http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/10/Tekanan-Darah-Tinggi-Hipertensi.pdf
[Accessed 19 May 2021].

Ngurah, I.G.K.G. and Yahya, N.K.V.C., 2015. Gaya Hidup Penderita Hipertensi. Gema Keperawatan8.

Philip Morris International, 2018. Delivering a Smoke-Free Future. [Online]
[Accessed 19 May 2021].

Septiani, C.A., 2021. Penyakit Yang Ditimbulkan Oleh Rokok. IIK Strada Indonesia.

Setyanda, Y.O.G., Sulastri, D. and Lestari, Y., 2015. Hubungan merokok dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia 35-65 tahun di Kota Padang. Jurnal kesehatan andalas4(2).

Tawbariah, L., Apriliana, E., Wintoko, R. and Sukohar, A., 2013. The Corelation of Consuming Cigarette with Blood Pressure of The Society in Pasaran Island Kota Karang Village East Teluk Betung Sub-District Bandar Lampung. Med J Lampung Univ [Internet]3(6).

Yonata, A. and Pratama, A.S.P., 2016. Hipertensi sebagai faktor pencetus terjadinya stroke. Jurnal Majority5(3), pp.17-21.