SELAYANG PANDANG LEUKEMIA PADA ANAK
Februari 28, 2024
0

Leukemia merupakan kanker darah yang terjadi akibat peningkatan jumlah sel darah putih dalam tubuh. Menarik untuk diketahui bahwa leukemia pada anak-anak merupakan jenis penyakit ganas yang paling umum terjadi. Fakta menarik lainnya adalah ¾ dari seluruh kasus kanker ganas pada anak di Indonesia terkait dengan leukemia. Leukemia merupakan salah satu penyebab kematian utama di tingkat global. Jenis kanker yang paling  banyak  diderita  oleh  anak-anak  adalah  leukemia  akut,  mencapai 97% dari semua jenis leukemia pada anak, dengan insiden tiap tahun yang cenderung meningkat.

Leukemia sebagai jenis kanker yang paling banyak diderita oleh anak-anak di Indonesia (Kemenkes  RI,  2015). Menurut Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2018 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), leukemia menduduki peringkat kesembilan dalam jumlah kasus terbanyak di Indonesia selama lima tahun terakhir, dengan prevalensi mencapai 35.870 kasus (Yulianti & Adnan, 2020). Di Indonesia terdapat sekitar 11.000 kasus kanker anak yang terjadi setiap tahunnya, dengan leukemia menjadi jenis kanker tertinggi anak dengan tingkat kejadian sebesar  2,8 per 100.000 penduduk.

Leukosit atau yang lebih dikenal sebagai sel darah putih memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Pada kasus kanker darah, seperti leukemia, sumsum tulang yaitu jaringan kenyal di dalam tulang, menghasilkan banyak sel darah putih yang tidak normal. Sel-sel ini mengalami pertumbuhan yang berlebihan, menyebabkan penumpukan di sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah. Berbeda dengan sel darah putih yang sehat, sel ini tidak mampu memberikan perlindungan terhadap infeksi. Terkadang, kondisi ini dapat menyebar dari sumsum tulang ke area tubuh lainnya, seperti dada, otak, atau hati.

Leukemia pada anak-anak dapat dibagi menjadi beberapa jenis utama, yang dapat dibedakan berdasarkan tipe sel darah yang terlibat dan perkembangan penyakitnya. Berikut adalah beberapa jenis leukemia yang umum terjadi pada anak-anak.

Leukemia Limfoblastik Akut (LLA)

Leukemia limfoblastik akut adalah jenis leukemia yang paling umum pada anak-anak. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel limfosit yaitu jenis sel darah putih yang bertanggung jawab untuk melawan infeksi tumbuh tidak normal. Pada anak-anak dengan kondisi ini, sumsum tulang menghasilkan terlalu banyak limfoblas, sejenis sel darah putih yang belum matang. Sel-sel abnormal ini menggantikan sel-sel darah putih yang sehat, yang dapat menyebabkan anemia, kecenderungan berdarah, dan penurunan kemampuan melawan infeksi. Gejala LLA melibatkan peningkatan jumlah sel darah putih, kelemahan, penurunan berat badan, pembesaran kelenjar getah bening, dan seringkali infeksi berulang.

Leukemia Myeloid Akut (LMA)

Leukemia myeloid akut adalah kanker darah dan sumsum tulang yang dimulai pada sel darah putih yang belum matang yang disebut myeloblast yang terletak di dalam sumsum tulang. Myeloblast biasanya tumbuh menjadi salah satu dari tiga jenis sel darah matang: sel darah merah, sel darah putih atau trombosit. Pada orang yang mengidap leukemia jenis ini, sel-sel myeloblast yang bersifat kanker membelah dengan cepat, menghilangkan sel-sel darah sehat dan sel-sel penghasil trombosit dari sumsum tulang tubuh, yang akhirnya berhenti bekerja dengan benar. Anak-anak dengan LMA mungkin mengalami gejala seperti kelelahan, demam, nyeri tulang, dan perdarahan yang sulit dihentikan. LMA memerlukan perawatan segera karena dapat berkembang dengan cepat.

Diagnosis leukemia pada anak melibatkan sejumlah tes dan prosedur medis yang dilakukan. Berikut adalah beberapa cara umum untuk mendeteksi leukemia pada anak.

Pemeriksaan Fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh pada anak, mencari tanda-tanda dan gejala leukemia seperti pembesaran limpa, hati, atau kelenjar getah bening.

Analisis Darah

Tes darah lengkap (CBC – Complete Blood Count) adalah langkah awal dalam diagnosis leukemia. Pada leukemia, jumlah sel darah putih umumnya meningkat, tetapi jumlah sel darah merah dan trombosit dapat menurun.

Biopsi Sumsum Tulang

Untuk mengonfirmasi diagnosis, seringkali diperlukan biopsi sumsum tulang. Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel sumsum tulang dari dalam tulang belakang atau panggul, dan kemudian dianalisis di laboratorium.

Pemeriksaan Sitogenetik

Pemeriksaan sitogenetik merupakan pemeriksaan kromosom yang digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan kromosom. Pemeriksaan ini melibatkan analisis struktur kromosom dalam sel-sel leukemia. Hasilnya dapat membantu dokter merencanakan pengobatan yang tepat.

Pemeriksaan Imunofenotip

Pemeriksaan Imunofenotip adalah uji yang membantu mengidentifikasi jenis sel yang terlibat dalam leukemia. Pemeriksaan ini membantu dokter untuk mengklasifikasikan jenis leukemia dan merencanakan strategi pengobatan yang sesuai.

Pemeriksaan Cerebrospinal Fluid (CSF)

Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memeriksa apakah leukemia telah menyebar ke sistem saraf pusat. Pengambilan sampel cairan serebrospinal dilakukan melalui prosedur yang disebut sebagai lumbar puncture.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan citra seperti sinar-X, CT scan, atau MRI mungkin diperlukan untuk menentukan sejauh mana penyebaran leukemia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes  RI.  (2015).  Panduan  Nasional  Penanganan  Kanker:  Retinoblastoma. Komite Nasional Penanggulangan Kanker (KPKN), 8.

Makarim, F. R. (2019). Perlu Tahu, Ini Prosedur Diagnosis Leukemia. halodoc. Online: (https://www.halodoc.com/artikel/perlu-tahu-ini-prosedur-diagnosis-leukemia) Diakses pada 18 Januari 2024.

NYU Langone Health. (2023). Types of Leukemia in Children. Online. Available at:  (https://nyulangone.org/conditions/leukemia-in-children/types) Accessed: 18 January 2024.

Yulianti, E., & Adnan, N. (2020). Faktor-Faktor Prognostik Kesintasan 5 Tahun