WORM INFECTIONS IN CHILDREN: BAGAIMANA PENGARUH KECACINGAN TERHADAP KESEHATAN ANAK?
Juni 19, 2021
0

     Infeksi kecacingan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang hingga kini masih menjadi problematika pelik di Indonesia. Kelompok usia balita dan anak usia sekolah dasar yang tinggal di daerah kumuh perkotaan dan pedesaan menjadi penyumbang tertinggi angka prevalensi kecacingan di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2015 menunjukkan bahwa total prevalensi kecacingan di Indonesia untuk semua umur berkisar antara 40 – 60%. Sementara itu, sebesar 30% anak-anak di Indonesia yang berusia 1 – 6 tahun mengalami infeksi kecacingan dan 90% kasus infeksi kecacingan disumbangkan paling tinggi oleh anak-anak berusia 7 – 12 tahun (Rosyidah & Prasetyo, 2018).  Di dunia, sebanyak 24% dari total populasi manusia atau lebih dari 1,5 miliar orang mengalami infeksi kecacingan. Prevalensi ini paling tinggi disumbangkan oleh usia anak pra sekolah dan usia anak sekolah dasar, yaitu sebanyak 270 juta anak usia pra sekolah dan lebih dari 600 juta anak usia sekolah dasar di dunia mengalami infeksi kecacingan (Fadhila, 2015).

Infeksi kecacingan pada anak: apa penyebabnya?

     Kecacingan merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing di dalam tubuh manusia yang bersifat merugikan. Seseorang dapat mengalami infeksi kecacingan apabila telur atau larva cacing masuk ke dalam tubuh manusia kemudian berkembang menjadi cacing dewasa dan bertelur di dalam tubuh (Teresa, 2014). Pada umumnya, cacing dapat mudah masuk ke dalam tubuh manusia ketika manusia berada di lingkungan yang tidak bersih, tidak memiliki sanitasi yang baik, dan menerapkan kebiasaan yang tidak higienis. Hal ini dapat terjadi karena infeksi cacing ditularkan melalui lingkungan dan tanah yang tercemar telur cacing. Cacing yang penularannya melalui tanah sering disebut dengan infeksi cacing jenis Soil Transmitted Helminths (STH). Beberapa jenis cacing yang sering menyebabkan infeksi kecacingan di masyarakat, khususnya pada anak-anak, yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) (Ramayanti, 2019). Beberapa faktor risiko infeksi kecacingan dapat dijabarkan sebagai berikut.

  1. Jenis Tanah

Tanah dengan karakteristik yang lembap dapat menyebabkan telur cacing gelang dan cambuk mudah berkembang biak dengan sangat cepat. Sementara itu, tanah pertambangan yang bergembur dan berpasir di pedesaan dapat memudahkan pertumbuhan cacing tambang. Tanah yang kering dan berdebu dapat memudahkan penularan cacing dari satu orang ke orang lainnya (Mahmudah, 2017).

  1. Pengetahuan

Anak dengan pengetahuan yang kurang baik memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami infeksi cacing daripada anak dengan pengetahuan yang baik. Pengetahuan ini berkaitan dengan pola perilaku dan kebiasaan anak dalam menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan sekitar (Veridiana dkk., 2014).

  1. Kondisi Sanitasi Lingkungan

Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, seperti membuang tinja sembarangan dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Pembuangan tinja sembarangan dapat mengontaminasi air dan tanah sehingga akan memudahkan penularan berbagai sumber penyakit, seperti virus, bakteri, dan cacing (Novianty dkk., 2018).

  1. Kebiasaan Mencuci Tangan

Anak usia sekolah dasar memiliki risiko yang tinggi mengalami infeksi kecacingan karena lebih sering bermain di luar sehingga kebiasaan mencuci tangan yang benar harus diterapkan sedari dini. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dapat mencegah penularan cacing ke dalam tubuh manusia (Novianty dkk., 2018).

  1. Kebersihan Kuku

Kuku yang bersih memiliki risiko lebih rendah terinfeksi cacing dibandingkan kuku yang tidak bersih. Kuku yang kotor dan jarang dipotong dapat menjadi perantara masuknya telur cacing ke dalam mulut melalui makanan (Novianty dkk., 2018).

  1. Ketersediaan dan Kebersihan Jamban

Ketersediaan jamban keluarga yang bersih merupakan salah satu faktor penting dalam menanggulangi penyebaran cacing. Seorang anak yang memiliki kebiasaan buang air besar di halaman atau lingkungan terbuka memiliki risiko 2,9 kali lebih besar terinfeksi cacing daripada anak yang memiliki kebiasaan buang air besar di jamban (Novianty dkk., 2018).

  1. Ketersediaan Air Bersih

Ketersediaan air bersih merupakan hal yang penting bagi kebutuhan manusia karena digunakan untuk konsumsi air minum dan mencuci pakaian. Air yang kotor dapat menjadi tempat berkembangnya telur dan larva cacing yang mampu menginfeksi manusia (Novianty dkk., 2018).

  1. Penggunaan Alas Kaki

Selain melindungi kaki dari benda tajam, penggunaan alas kaki memiliki tujuan yang sangat penting untuk menghindari masuknya cacing ke dalam tubuh manusia. Penggunaan alas kaki ketika berada di luar rumah dapat mencegah penularan cacing (Novianty dkk., 2018).

Apa yang akan terjadi jika infeksi kecacingan tidak segera ditangani?

     Infeksi cacing menjadi masalah terbesar yang sering dialami oleh anak-anak usia sekolah dasar. Infeksi kecacingan yang tidak segera ditangani dapat menjadi masalah serius yang mengancam kondisi dan kesehatan anak-anak. Anak yang terinfeksi cacing dapat mengalami keterlambatan dalam tubuh dan berkembang hingga menyebabkan malnutrisi. Hal ini dapat terjadi karena cacing dapat menyerap nutrisi yang terdapat di dalam tubuh inangnya. Seekor cacing yang tumbuh di dalam usus anak dapat mengambil karbohidrat anak sebanyak 0,14 gram/hari dan mengambil protein anak sebanyak 0,035 gram/hari (Fadhila, 2015). Selain itu, cacing yang berada di dalam tubuh mampu merusak jaringan dan organ tubuh sehingga menyebabkan obstruksi usus, anemia, sakit perut, diare, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Berbagai masalah kesehatan ini memiliki dampak yang cukup besar dalam memperlambat perkembangan kognitif anak sehingga dapat mengakibatkan performa anak dalam menerima suatu materi atau pembelajaran di sekolah menjadi buruk dan terhambat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kecacingan menjadi salah satu faktor risiko kejadian stunting pada anak (Widiarti dkk., 2020). Infeksi cacing yang tidak segera dideteksi dan diatasi lambat laun akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada anak, seperti stunting hingga kematian. Oleh karena itu, upaya pemberantasan dan pencegahan kecacingan harus lebih ditingkatkan dan diprioritaskan agar prevalensi kecacingan pada masyarakat, khususnya anak-anak dapat segera menurun.

Lalu, bagaimana ya upaya pencegahan yang dapat dilakukan?

     Pencegahan infeksi kecacingan dapat dilakukan melalui tiga tingkatan pencegahan, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

  1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer dari infeksi kecacingan dapat dilakukan dengan cara menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk memutuskan rantai penyebaran dan daur hidup cacing. Upaya yang dapat dilakukan, seperti menjaga kebersihan diri, melakukan defekasi (buang air besar) di jamban yang sehat, menggunakan air yang bersih untuk keperluan sehari-hari, mencuci tangan secara teratur, membiasakan diri memakai alas kaki, dan menggunting kuku secara teratur. Pencegahan primer juga dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai personal hygiene  dan sanitasi lingkungan yang baik untuk mencegah infeksi kecacingan, khususnya pada anak-anak (Suriani dkk., 2020).

  1. Pencegahan Sekunder

Selain pencegahan primer, pencegahan sekunder juga dapat dilakukan untuk menghindari infeksi kecacingan. Upaya pencegahan sekunder, meliputi pemeriksaan feses secara teratur ke rumah sakit atau puskesmas dan rutin mengonsumsi obat cacing setiap 6 bulan sekali, khususnya bagi anak-anak dan masyarakat yang rentan terinfeksi cacing (Suriani dkk., 2020). Pencegahan sekunder juga dapat dilakukan melalui pengobatan massal yang disediakan oleh pemerintah. Pengobatan massal ini memiliki beberapa persyaratan, seperti harus mudah diterima masyarakat, memiliki efek samping yang minim, aturan pemakaian yang sederhana, dan memiliki harga yang murah. Pengobatan massal yang dilakukan oleh pemerintah, seperti pemberian albendazol 400 mg kepada anak sekolah dasar sebanyak 2 kali dalam setahun (Tampubolon, 2018).

  1. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier kecacingan dapat dilakukan melalui tindakan medis berupa operasi. Ketika seseorang telah sembuh dari infeksi kecacingan, pencegahan tersier juga dapat dilakukan, seperti pemberian makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pencegahan ini bertujuan untuk mencegah komplikasi lanjut dan membatasi ketidakmampuan akibat infeksi kecacingan (Tampubolon, 2018).

DAFTAR PUSTAKA

Fadhila, N., 2015. Kecacingan pada Anak. Jurnal Agromed Unila, 2(3), pp. 347-350.

Laily, N., 2018. Analisa Kontaminasi Telur Nematoda Usus Golongan Soil Transmitted Helminths (STH) Pada Sampel Pasir di Pantai Daerah Tanjung Kabupaten Sampang (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surabaya).

Mahmudah, U., 2017. Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah terhadap Kejadian Infeksi Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan10(1), pp.32-39.

Novianty, S., Pasaribu, H.S. and Pasaribu, A.P., 2018. Faktor Risiko Kejadian Kecacingan pada Anak Usia Pra Sekolah. Journal Of The Indonesian Medical Association68(2), pp.86-92.

Ramayanti, I., 2019. Prevalensi Infeksi Soil Transmitted Helminths pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Ittihadiyah Kecamatan Gandus Kota Palembang. Online) http://jurnal. um-palembang. ac. id/syifamedika/article/view/1352 diakses20.

Rosyidah, H.N. and Prasetyo, H., 2018. Prevalence of Intestinal Helminthiasis in Children At North Keputran Surabaya at 2017. Journal of Vocational Health Studies1(3), pp.117-120.

Suriani, E., Irawati, N. and Lestari, Y., 2020. Analisis Faktor Penyebab Kejadian Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2017. Jurnal Kesehatan Andalas8(4).

Tampubolon, D.M., 2018. Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Infeksi Kecacingan yang ditularkan Melalui Tanah pada Murid Sekolah Dasar Swasta Yayasan Pendidikan Duta Harapan Bukit Sion Kecamatan Medan Denai Tahun 2018.

Teresa, A., 2014. Membudayakan Kebiasaan Mencuci Tangan (Studi Kasus Penanganan Masalah Kecacingan pada Anak di Dusun Manyuluh, Desa Lahei, Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah). Journal Ilmu Sosial, Politik dan Pemerintahan3(1), pp.1-5.

Veridiana, N.N., Sumolang, P.P.F. and Chadijah, S., 2014. Hubungan Pengetahuan, Perilaku, dan Sanitasi Lingkungan dengan Angka Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar di Kota Palu. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan24(1), p.20695.

Widiarti, A., Yuliani, N.N.S. and Augustina, I., 2020. Hubungan Perilaku Personal Hygiene terhadap Kejadian Kecacingan dan Stunting Pada Siswa Kelas I-III di SDN Pematang Limau, Kabupaten Gunung Mas. Jurnal Surya Medika (JSM)5(2), pp.153-159.